Kamis, 03 April 2014
Aktivitas/Kreativitas Punk dalam Kontroversi di Masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Punk adalah suatu ideologi tentang pemberontakan dan anti kemapanan. Dalam sejarah, tidak ada yang tahu persis kapan budaya punk ini muncul. Namun, telah banyak yang mencoba menulis tentang awal mula budaya ini walaupun muncul dalam beberapa versi. Kata punk sendiri berasal dari Bahasa Inggris, Yaitu “Public United Not Kingdom” yang berarti kesatuan masyarakat di luar kerajaan. Punk muncul sebagai bentuk reaksi dari masyarakat yang kondisi perekonomiannya lemah dan pengangguran di pinggiran kota inggris. Terutama kelompok anak muda dengan kondisi keterpurukan ekonomi sekitar tahun 1976-1977. Kelompok remaja dan para kaum muda ini merasa sistim monarkilah yang menindas mereka, dari sini muncul sikap resistensi terhadap sistem monarki. Punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyeleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi atau mendisorganisasi secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas). Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan situasi, tempat dan kondisi, maka bisa dikatakan punk berusaha untuk membebaskan diri dari kekuasan yang membelenggu.
Kelahiran punk yang dijelaskan tadi membawa banyak perubahan sosial yang ternyata tidak hanya di Inggris saja. Ideologi ini menyebar keseluruh belahan dunia dari barat sampai ke belahan timur dunia. Ideologi punk terbentuk secara tidak langsung akibat dari aksi komunitas street punk yang sangat frontal terhadap pemerintahan di negara bagian eropa. Aksi punkers ( sebutan untuk anak punk ) menolak adanya pemberlakuan pajak yang tinggi, anti kapitalis, menginginkan adanya chaos, menolak dan mengecam paham Nazisme dan Fasisme dalam pemerintahan Inggris. Menentang keras Imprealism beserta politik Apartheid, menolak adanya paham Feodalism, tidak menginginkan dipakainya paham Neoliberalism sebagai paham ekonomi di seluruh negara sebagai bentuk dari perdagangan bebas, serta tidak menginginkan pemerintahan yang me”marjinal”kan masyarakatnya. Aksi komunitas punk yang turun ke jalan bersama dengan kaum skinhead ( kaum dari kalangan pekerja dan buruh ) pada akhirnya membuahkan hasil di mana adanya penghapusan paham Fasisme dan Nazisme di Eropa. Ikut melawan rezim militer di Rusia, ikut melatarbelakangi penghancuran tembok berlin di Jerman sebagai bentuk penghapusan kedua paham tadi di Eropa dan masih banyak aksi-aksi lainnya pada masa sekarang ini seperto melawan lembaga dunia WTO ( World Trade Organization ) yang merupakan lembaga pengelola perdagangan bebas. Kemudian pada perkembangan selanjutnya banyak aktivis, kaum cendikiawan dan terpelajar, buruh, tani, nelayan, serta kaum dari golongan masyarakat kalangan menengah ke bawah yang ikut bergabung dalam perjuangn kaum punk dan Skinheads ini seperti organisasi Black Bloc. Dalam sejarahnya, aksi ini mempunyai jumlah massa terbesar di dunia. ”Philosophy of Punk”, Craig O’Hara (1999) menyebutkan tiga pengertian Punk. Punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Punk sebagai pemula yang punya keberanian memberontak, memperjuangkan kebebasan dan melakukan perubahan. Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat”, karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas dan kebudayaan sendiri.
Dilihat dari hal-hal di atas yang sebenarnya keberadaan anak Punk sebenarnya tidaklah merugikan. Punk hanya muncul sebagai bentuk protes atas apa yang menurut mereka kurang baik. Protes punk lakukanpun tidak merugikan orang lain. Namun, kenapa masih ada juga masyarakat yang tidak suka akan keberadaan punk ? hal inilah yang sekaligus melatar belakangi Kami untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal-hal yang menjadi penyebab ketidak sukaan masyarakat akan keberadaan punk yang sekarang ini makin marak bermunculan diseluruh penjuru negeri, Kami bermaksud melakukan penelitian yang diberi judul ”Aktivitas/Kreativitas Punk dalam Kontroversi di Masyarakat”.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: ”Mengapa aktivitas/kreativitas punk dalam lingkungan masyarakat menimbulkan kontroversi ?”.
C. TUJUAN PENELITIAN
Sejalan dengan rumusan masalah terebut di atas, maka tujuan penelitan ini adalah:
1. Untuk mencari hal-hal yang membuat masyarakat menimbulkan kontroversi mengenai aktivitas/kreativitas punk.
2. Untuk mencari pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan punk terhadap masyarakat di lingkungan sekitar.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat hasil penelitian yang diharapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Praktis
a. Bagi masyarakat yaitu memberi penjelasan tentang bagaimana aktivitas punk yang sebenarnya.
b. Bagi perkumpulan punk memberi informasi kepada mereka, bahwa keberadaan mereka di tengah masyarakat menimbulkan kontroversi karena beberapa hal.
c. Bagi pseneliti dapat memberikan bekal, wawasan, dan pengalaman bagi peneliti sebagai calon guru dalam menghadapi siswa yang berada dalam lingkup punk.
2. Manfaat Teoritis
Dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan akurat tentang aktivitas/kreativitas punk dalam lingkungan masyarakat yang dapat menimbulkan kontroversi serta pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan akan keberadaan mereka (punk).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. TINJAUAN PUSTAKA
1. Punk
a. Pengertian Punk
Punk adalah suatu ideologi tentang pemberontakan dan anti kemapanan. Dalam sejarah, tidak ada yang tahu persis kapan budaya punk ini muncul. Namun, telah banyak yang mencoba menulis tentang awal mula budaya ini walaupun muncul dalam beberapa versi. Kata punk sendiri berasal dari Bahasa Inggris, Yaitu “Public United Not Kingdom” yang berarti kesatuan masyarakat di luar kerajaan. Punk muncul sebagai bentuk reaksi dari masyarakat yang kondisi perekonomiannya lemah dan pengangguran di pinggiran kota inggris. Terutama kelompok anak muda dengan kondisi keterpurukan ekonomi sekitar tahun 1976-1977. Kelompok remaja dan para kaum muda ini merasa sistim monarkilah yang menindas mereka, dari sini muncul sikap resistensi terhadap sistim monarki.
Punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyeleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi atau mendisorganisasi secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas). Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan situasi, tempat dan kondisi, maka bisa dikatakan punk berusaha untuk membebaskan diri dari kekuasan yang membelenggu.
b. Sejarah Punk
Tak ada yang tahu pasti kapan dan di mana munculnya budaya punk pertama kali. Tapi ada sebuah catatan penting ketika sebuah grup band dari Inggris yang dalam tiap pertunjukannya selalu dihadiri anak-anak muda dengan dandanan berbeda dari yang lain. Nama band itu adalah Sex Pistols dan hit mereka yang terkenal adalah “Anarchy in U.K.” Wabah ini secara cepat menyebar ke Eropa.
Punk muncul sebagai bentuk reaksi masyarakat yang kondisi perekonomiannya lemah dan pengangguran di pinggiran kota-kota Inggris, terutama kelompok anak muda, terhadap kondisi keterpurukan ekonomi sekitar tahun 1976-1977. Kelompok remaja dan kaum muda ini merasa bahwa sistem monarkilah yang menindas mereka.
Dari sini muncul sikap resistensi terhadap sistem monarki. Kemarahan-kemarahan ini diwujudkan dalam bentuk musik yang berisi lirik-lirik perlawanan dan protes sosial politik serta cara berpakaian yang tidak lazim. Konser-konser musik digelar sebagai media untuk mengampanyekan ide-ide mereka.
Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir pada awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
c. Kehidupan/Gaya Hidup Punk
Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).
Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.
Punk di Indenesia berbekal etika DIY, beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.
CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi's, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya
B. KERANGKA PIKIR
Gaya hidup, ideologi dan perilaku anak-anak Punk seringkali dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah. Lirik-lirik lagu Punk bercerita tentang jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya Punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri. Sehingga tidak mendapat kesempatan untuk tampil diacara televisi, perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Bagi para intelektual apalagi orang awam sangat sulit melihat gerakan Punk sebagai kekuatan yang serius bagi revolusi. Penggambaran Punk yang dilakukan media sebagai Punk Rocker adalah seorang yang biasa memakai drugs, mabuk dan merusak diri, suka berkeliaran dijalanan dan melakukan berbagai tindakan kriminal telah melemahkan posisi Punk dalam masyarakat dan justru dianggap sebagai satu ancaman politik.
Walaupun begitu buruk citra anarko-punk dimata masyarakat dan Pemerintah, namun hal ini tidak menyurutkan gelombang baru Anarko-Punk untuk melakukan perubahan dan tindakan selama kurun waktu 80-an hingga 90-an. Anarchist Youth Federation (di Minnesota, Tenessee, California dan Manyland), Twin cities (dari Mineapolis) Anarchist Federation, Cabbage Collective (Philadelphia), Tools Collective (Boston) ; Positive Force (Wshington DC) serta banyak lagi organisasi-organisasi lain telah melakukan banyak kegiatan seperti pertunjukan dan acara pengumpulan dana bagi tujuan-tujuan yang baik untuk orang-orang yang membutuhkan.
Banyak yang tahu pasti soal lahirnya kaum punk dan komunitasnya. Namun sebagian besar sumber menyatakan kalo kisah lahirnya kaum punk diawali pada tahun 1971 ketika Lester Bangs, wartawan majalah semi-underground Amerika, Creem, menggunakan istilah punk untuk mendeskripsikan sebuah aliran musik rock yang semrawut, asal bunyi, namun bersemangat tinggi. Musik tersebut dibuat dan digemari oleh para narapidana Amerika yang terkenal brutal, sadis dan psikopat. Kata punk itu sendiri lazim digunakan oleh kaum narapidana Amerika untuk nyebut partner atau pasangan pasif dalam hubungan homoseksual. Sejak saat itu, para napi disana seringkali menggunakan istilah punk dan punkers.
Masyarakat cenderung tidak suka dan nolak keberadaan punk dan punkers. Tidak bakal ada orang yang doyan hombreng. Problemnya, tidak hanya masalah penampilan yang sering bikin orang lain gerah. Tapi, komunitas punk juga menggunakan kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Malah, sampai saat ini punk tetep identik dengan brutalitas dan vandalisme.
SKEMA KERANGKA FIKIR
C. HIPOTESIS
Berdasarkan hal-hal diatas diduga bahwa Keberadaan Punk sebenarnya di Masyarakat mendapat tempat yang kurang baik di Masyarakat karena ulah kebrutalan maraka sendiri. Lain halnya dengan Punk yang mampu menempatkan diirinya dengan baik di masyarakat juga mendapat tempat yang baik pula. Selain itu, ada beberapa masyarakat yang masih belum memahami keberadaan para Anak Punk atau doktrin dalam masyarakat yang sudah memandang anak Punk sebelah mata.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS DAN LOKASI PENELITIAN
1. Jenis Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian social budaya yang dilakuka secara kualitatif
2. Lokasi Penelitian: Penelitian ini dilakukan pada beberapa Komunitas Punk di Kelurahan Parang Tambung, seperti Bontas Street Punk, SapBul Street Punk.
B. FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini difokuskan pada, aktivitas Punk yang menyebabkan ketidaksukaan masyarakat terhadap mereka atau penyebab timbulnya kontroversi. Dan bagaimana memperbaiki hubungan keduanya dalam artian memberikan kedudukan pada Punk agar keberadaan mereka sedikit bisa dihargai.
C. INFORMASI PENELITIAN
Informasi diperoleh dari berbagai pihak, seperti:
1. Anak-anak Bontas Street Punk
2. Anak-anak SapBul Street Punk
3. Masyarakat sekitar Komunitas Punk tersebut
D. INSTRUMENT PENELITIAN
1. Alat: Alat Tulis, Buku, Laptop, Camera, Handphone, dll.
2. Bahan: Komunitas-komunitas Punk, Masyarakat, Data-data Internet dll.
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalampenelitian ini adalah:
1. Observasi, data tentang kondisi anak Punk yang sebenarnya dan hubungan dengan masyarakat sekitar diambil dengan menggunakan observasi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan beberapa indicator yang diamati.
2. Wawancara, data diambil dengan wawancara langsung dan tidak langsung. Karena kami juga mewawan cari beberapa komunitas Punk melalui Facebook dan Twitter.
3. Data, beberapa data diperoleh, dikelolah sesuai dangan kebutuhan peneliti.
F. TEKNIK ANALISIS DATA
Data yang diperoleh akan dianalisis untuk mencari beberapa pokok permasalahan yang hendak dicari jawabannya. Agar bisa dicari jalan keluar dari pokok permasalahan yang sebenarnya.
G. KEAPSAHAN DATA
Keapsahan data dapat dilihat dari Dokumentasi yang Kami ambil selama proses wawancara. Dan untuk informasi lain Kami mengambil dari internet karena ada beberapa hal yang Kami tidak dapatkan pada saat proses wawancara Kami lakukan. Keapsahan data dapat di ukur dengan tingkat:
1. Kredibilitas
2. Transferability/keteralihan
3. Auditability/Dependability
4. Confirmability (dapat dikonfirmasi)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Profil Lokasi Penelitian
a. Alamat: Jalan. Bontoduri dan Jalan. Sappa Bulo. Intinya Daerah penelitian di
Kelurahan Parang Tambung.
b. Jumlah: 2 Komunitas beserta masyarakat disekitar komunitas.
c. Keadaan Geografis:
1) Bontas Street Punk berada di Jalan Bontoduri 6, diakses dari sebelah Barat yaitu Jln. Mannuruki, sebelah Timur Jln Kumala, sebelah Utara Jln Dg. Tata, dan sebelah Selatan Jln. Alaudin.
2) Sapbul Street Punk berada di Jalan Sappabulo, diakses dari sebelah Barat melalui Jln. Parang Tambung, sebelah Timur Jln. Abdul Kadir, sebelah Utara Jln. Hartaco Indah, dan sebelah Selatan Jln. Dg. Tata.
d. Karakter:
Komunitas Punk:
1) Keras
2) Mudah tersinggung
3) Tidak mau berfoto dengan orang yang sepenuhnya belum dikenal
4) Sulit memberi informasi
Masyarakat:
1) Ramah
2) Mudah memberi informasi
3) Baik
2. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Kami sebagai peneliti mendapatkan beberapa informasi dan pelajaran yang mengejudkan dari mereka para komunitas Punk maupun dari Masyarakat. Tapi, berdasarkan penelitian ini hasil yang Kami peroleh bahwa Keberadaan Punk sebenarnya di Masyarakat mendapat tempat yang kurang baik di Masyarakat karena ulah kebrutalan maraka sendiri. Lain halnya dengan Punk yang mampu menempatkan dirinya dengan baik di masyarakat juga mendapat tempat yang baik pula. Selain itu, ada beberapa masyarakat yang masih belum memahami keberadaan para Anak Punk atau doktrin dalam masyarakat yang sudah memandang anak Punk sebelah mata.
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penilitian yang diperoleh bahwa Kami sebagai peneliti mendapatkan beberapa informasi dan pelajaran yang mengejudkan dari mereka para komunitas Punk maupun dari Masyarakat. Tapi, berdasarkan penelitian ini hasil yang Kami peroleh bahwa Keberadaan Punk sebenarnya di Masyarakat mendapat tempat yang kurang baik di Masyarakat karena ulah kebrutalan maraka sendiri. Lain halnya dengan Punk yang mampu menempatkan diirinya dengan baik di masyarakat juga mendapat tempat yang baik pula. Selain itu, ada beberapa masyarakat yang masih belum memahami keberadaan para Anak Punk atau doktrin dalam masyarakat yang sudah memandang anak Punk sebelah mata.
Jadi jawaban dari rumusan masalah Kami yaitu Mengapa aktivitas/ kreativitas punk dalam lingkungan masyarakat menimbulkan kontroversi ? karena doktrin yang ada dalam diri masyarakat bahwa anak Punk itu terkenal dengan kebrutalan dan etika mereka yang kurang baik serta penampilan mereka yang cenderung kurang enak dipandang dengan Tindik di berbagai bagian wajah, celana yang compang-camping, dll. Sehingga hal ini yang menimbulkan sentimen terhadap mereka. Padahal tidak semua anak Punk seperti demikian seperti yang Kami amati bahwa mereka yang berkumpul untuk mendapatkan teman berbagi, bisa menerima mereka apa adanya, mengajarkan mereka kemandirian dalam hidup. Jadi yang menyebabkan kontrioversi adalah diktrin berlebihan akan keburukan anak Punk dari masyarakat.
Berdasarkan rumusan masalah yang telah Kami dapatkan hasilnya atau jawabannya hipotesis yang Kami ajukan benar adanya karena diperkuat pula dengan beberapa kajian pustaka yang telah kami bahas bersama.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
2. Aktivitas/Kreativitas Punk menimbulkan Kontroversi karena doktrin yang ada dalam diri masyarakat bahwa anak Punk itu terkenal dengan kebrutalan dan etika mereka yang kurang baik serta penampilan mereka yang cenderung kurang enak dipandang dengan Tindik di berbagai bagian wajah, celana yang compang-camping, dll. Sehingga hal ini yang menimbulkan sentimen terhadap mereka.
B. SARAN
Sebagiai peneliti Kami menyarankan kepada masyrakat, sebelum kita mengambil sebuk kesimpulan dan melakukan tindakan sebaiknya selidiki dulu seluk-beluk suatu problema. Karena ada kalanya suatu yang bernampak buruk di luar tidak berdampak buruk sesungguhnya ataupun sebaliknya.
Senin, 30 Desember 2013
Rendahnya Relevansi Pendidikan
Tugas
Individu
Belajar
Pembelajaran Sosiologi
Rendahnya Relevansi
Pendidikan
Riskamayanti
105380191210
Jurusan Pendidikan
Sosiologi
Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Makassar
2012
2012
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji syukur Saya
panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas berkat Rahmat dan Hidayah- Nya, sehingga Saya dapat menyelesaikan tugas makalah
Belajar Pembelajaran Sosiologi ini yang membahas mengenai “ Rendahnya Relevansi
Pendidikan Di Indonesia”.
Sebelumnya, Saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami menyelesaikan makalah ini, tak terkecuali kepada guru pembimbing, teman- teman, dan juga semua orang yang terlibat dalam proses pembuatan makalah ini.
Harapan Saya, semoga makalah dari kami ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam memperdalam wawasan mengenai Belajar Pembelajaran Sosiologi khususnya Evaluasi Belajar dan Pembelajaran. Saya juga meminta maaf apabila ada kesalahan,dan kekuranga dalam isi makalah Saya ini, karena seperti pepatah “ Tak Ada Gading, yang Tak Retak” maka tak ada seorangpun yang luput dari kesalahan. Maka dari itu, Saya sangat mengharapkan saran ataupun kritik yang berguna untuk membangun dan memperbanyak pengetahuan Saya.
Sekian dan Terima Kasih,
Sebelumnya, Saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami menyelesaikan makalah ini, tak terkecuali kepada guru pembimbing, teman- teman, dan juga semua orang yang terlibat dalam proses pembuatan makalah ini.
Harapan Saya, semoga makalah dari kami ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam memperdalam wawasan mengenai Belajar Pembelajaran Sosiologi khususnya Evaluasi Belajar dan Pembelajaran. Saya juga meminta maaf apabila ada kesalahan,dan kekuranga dalam isi makalah Saya ini, karena seperti pepatah “ Tak Ada Gading, yang Tak Retak” maka tak ada seorangpun yang luput dari kesalahan. Maka dari itu, Saya sangat mengharapkan saran ataupun kritik yang berguna untuk membangun dan memperbanyak pengetahuan Saya.
Sekian dan Terima Kasih,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pengarang
Riskamayanti
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bulan Mei selalu identik dengan Pendidikan. Hal ini dikarenakan setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Indonesia. Meski diperingati setiap tahunnya, tidak semua pihak menyadari kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Terkait dengan kondisi pendidikan di Indonesia, Abdul Malik Fadjar (Mendiknas tahun 2001) mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia. Hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei oleh lembaga yang berkantor pusat di Hongkong itu, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Sedangkan Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam.
Bulan Mei selalu identik dengan Pendidikan. Hal ini dikarenakan setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Indonesia. Meski diperingati setiap tahunnya, tidak semua pihak menyadari kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Terkait dengan kondisi pendidikan di Indonesia, Abdul Malik Fadjar (Mendiknas tahun 2001) mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah yang terburuk di kawasan Asia. Hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei oleh lembaga yang berkantor pusat di Hongkong itu, Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina, serta Malaysia. Sedangkan Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam.
Rendahnya mutu dan relevansi
pendidikan juga disebabkan oleh rendahnya kualitas tenaga pengajar. Penilaian
dapat dilihat dari kualifikasi belajar yang dapat dicapai oleh guru dan dosen
tersebut. Dibanding negara berkembang lainnya, maka kualitas tenaga pengajar
pendidikan tinggi di Indonesia memiliki masalah yang sangat mendasar. Melihat
permasalahan tersebut, maka dibutuhkanlah kerja sama antara lembaga pendidikan
dengan berbagai organisasi masyarakat. Pelaksanaan kerja sama ini dapat
meningkatkan mutu pendidikan. Dapat dilihat jika suatu lembaga tinggi melakukan
kerja sama dengan lembaga penelitian atau industri, maka kualitas dan mutu dari
peserta didik dapat ditingkatkan, khususnya dalam bidang akademik seperti
tekonologi industri.
Masalah relevansi lebih terlihat saat banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara
kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di
atasnya. Selain itu juga dari banyaknya
lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan ( SMK)
dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja. Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan dari
satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan
teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya. Masalah relevansi
juga dapat diketahui dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu,
yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap
untuk bekerja.
Umumnya luaran yang diproduksi oleh
sistem pendidikan (lembaga-lembaga yang menyiapkan tenaga kerja) jumlahnya
secara kumulatif lebih besar daripada yang dibutuhkan di lapangan. Sebaliknya
ada jenis-jenis tenaga kerja yang dibutuhkan di lapangan kurang diproduksi atau
bahkan tidak diproduksi.
Beberapa hal di atas mnyebabkan
saya, tertarik untuk mekaji masalah Kondisi Pendidikan Di Indonesia, khususnya
Masalah Rendahnya Relevansi Pendidikan Di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Dalam pemaparan makalah ini, Saya
menarik beberapa Rumusan Masalah untuk dikaji diantaranya:
1. Apa
yang di maksud dengan relevansi pendidikan ?
2. Bagaimana
tingkat relevansi pendidikan yang ada di Indonesia ?
3. Jalaskan
dampak dari tidak relevannya pendidikan yang ada di Indonesia ?
4. Bagaimana
upaya untuk meningkatkan relevansi pendidikan ?
C. Tujuan
Adapun tujuan saya dalam membahas
Masalah Rendahnya Relevansi Pendidikan Di Indonesia, yaitu:
1. Untuk
menjelaskan apa sebenarnya itu relevansi pendidikan.
2. Untuk
memperlihatkan rendahnya tingkat relevansi peendidikan di Indonesia.
3. Untuk
memberikan penjelasan akan dampak yang ditimbulkan oleh relevansi pendidikan.
4. Untuk
menunjukkan cara meningkatkan relevansi pendidikan.
5. Untuk
sebagai tugas mid.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Relevansi
Pendidikan
Relevansi berkenaan dengan rasio antara tamatan yang dihasilkan satuan pendidikan
dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau indtitusi yang
membutuhkan tenaga kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu
yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke
satuan pendidikan di atasnya. Masalah relevansi juga dapat diketahui dari
banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan
pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja.
Yaitu masalah yang berhubungan dengan relevansi (kesesuaian) pemilikan
pengetahuan, keterampilan dan sikap lulusan suatu sekolah dengan kebutuhan
masyarakat (kebutuhan tenaga kerja). Contoh: adanya kasus perusahaan-perusahaan
yang masih harus mengeluarkan dana untuk pendidikan atau pelatihan bagi calon
karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki ketrampilan kerja seperti
yang diharapkan. Relevan berarti bersangkut paut, kait mangait, dan berguna
secara langsung.
Pendidikan mempunyai tugas
menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan
selalu diupayakan seirama dengan tuntunan zaman. Perkembangan zaman selalu
memunculkan tantangan-tantangan baru yang sebagainya sering tidak diramalkan
sebelumnya.
Relevansi pendidikan adalah sejauh
mana system pendidikan dapat menghasilkan iuran yang sesuai dengan kebutuhan
pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang digambarkan dalam rumusan
tujuan pendidikan nasional. Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua
sector pembangunan yang beraneka ragam seperti sector produksi maka relevansi
pendidikan dianggap tinggi. Relevansi pendidikan dapat dilihat dengan mengikuti
alur input-proses-output. Masukan (input) dalam komposisi tertentu yang
diproses dengan metode tertentu akan membuahkan dua macam hasil, yaitu hasil
jangka pendek (output) dan hasil jangka panjang (outcome).
·
Input pendidikan terdiri atas
kurikulum, siswa/peserta didik, guru/tenaga pendidik, sarana-prasarana, dana,
dan masukan lain.
·
Proses pendidikan meliputi seluruh
proses pembelajaran yang terjadi sebagai bentuk interaksi dari berbagai input
pendidikan.
·
Hasil pendidikan (output)
mencakup antara lain kemampuan peserta didik, yang dapat diukur melalui
prestasi belajar siswa.
·
Outcome pendidikan antara lain
peningkatan mutu lulusan, yang dapat dilihat antara lain melalui jumlah lulusan
yang melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya dan jumlah lulusan yang dapat
bekerja. Dengan demikian, mutu input dan mutu proses merupakan faktor penentu
mutu hasil, baik yang berupa hasil jangka pendek maupun hasil jangka panjang.
Beberapa faktor yang berkenaan
dengan input pendidikan dapat dikelompokkan kedalam faktor rumah atau keluarga,
faktor sekolah, dan faktor siswa. Diantara ketiganya, sekolah merupakan
komponen input yang paling erat hubungannya dengan kebijakan pendidikan.
Kriteria Relevansi
Masalah relevansi pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan
dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu
masalah-masalah seperti yang di gambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan
nasional.
Luaran pendidikan diharapkan dapat
mengisi ssemua sektor pembangunan yang beranekaragam seperti sektor produksi,
sektor jasa, dan lain-lain. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas.
Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor
pembangunan baik yang saktual (yang tersedia) maupun yang potensial dengan
memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi
pendidikan dianggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi
seperti yang dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi
sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara
lain sebagai berikut:
·
Status lembaga pendidikan sendiri
masih bermacam-macam kualitasnya.
·
Sistem pendidikan tidak pernah
menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada ialah siap kembang.
· Peta kebutuhan tenaga kerja dengan
persyaratannya yang dapat dugunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga
pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.
B. Masalah Relevansi Pendidikan
Masalah ini berkenaan dengan rasio antara tamatan
yang dihasilkan satuan pendidikan dengan yang diharapkan satuan pendidikan di
atasnya atau indtitusi yang membutuhkan tenaga kerja, baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif.
Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan
dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan
teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya. Masalah relevansi
juga dapat diketahui dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu,
yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap
untuk bekerja
Pentingnya
pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau
bangsa sudah menjadi kebutuhan mutlak
Pentingnya
pendidikan sebagai kegiatan yang menentukan kualitas hidup seseorang atau
bangsa sudah menjadi kebutuhan mutlak. Karena itu pendidikan harus dilakukan
secara sadar melalui sebuah kesengajaan yang terencana dan terorganisir dengan
baik. Semua demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Begitu juga dengan
sasaran lain meliputi obyek peserta, sarana dan prasarana penunjang pendidikan
yang lain.
Kecerdasan
intelektual tak akan berarti, tanpa adanya kecerdasan emosional yang dimiliki
oleh seseorang. Kecerdasan emosional atau lazim disebut EQ, diantaranya,
Memiliki kemampuan mengendalikan diri, sabar, ulet, tabah dan tahan uji dalam
menghadapi berbagai tantangan, toleransi dalam menghadapi berbagai perbedaan dan
konsisten dalam kebaikan.
Pendidikan yang berhasil membuat pribadi yang utuh,
bukan hanya mengutamakan kecerdasan intelektual dan emosional saja, fondasi
spiritual juga faktor kunci untuk keberhasilan. Kecerdasan spiritual, antara
lain, hatinya selalu terkait dengan Yang Maha Pencipta (Allah SWT). Hati dan
pikirannya selalu merasa dekat dan merasa diawasi oleh Allah SWT. Memiliki
kesadaran akan adanya akhir kehidupan dan kembali kepada-Nya. Ada perasaan
gundah dan gelisah ketika melakukan satu maksiat dan secepatnya bertaubat
kepada Allah.
Keutuhan pendidikan juga terlihat dari kecerdasan sosial yang dimiliki seseorang. Kecerdasan ini menunjukkan pada kita seberapa besar, nilai-nilai sosial diajarkan dalam sebuah pendidikan. Dan bagaimana prakteknya di lapangan saat seseorang terjun langsung dalam masyarakat. Untuk melihat kecerdasan ini dimiliki seseorang biasanya ditandai dengan keikhlasannya untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat. Mampu berempati pada kesulitan orang lain. Rela berkorban untuk kepentingan bersama, tidak mementingkan golongan, tapi kepentingan bersama yang lebih besar. Jika orang itu menjadi leader atau pemimpin, maka karyawan yang dipimpinnya merasa terayomi dan nyaman.
Keutuhan pendidikan juga terlihat dari kecerdasan sosial yang dimiliki seseorang. Kecerdasan ini menunjukkan pada kita seberapa besar, nilai-nilai sosial diajarkan dalam sebuah pendidikan. Dan bagaimana prakteknya di lapangan saat seseorang terjun langsung dalam masyarakat. Untuk melihat kecerdasan ini dimiliki seseorang biasanya ditandai dengan keikhlasannya untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat. Mampu berempati pada kesulitan orang lain. Rela berkorban untuk kepentingan bersama, tidak mementingkan golongan, tapi kepentingan bersama yang lebih besar. Jika orang itu menjadi leader atau pemimpin, maka karyawan yang dipimpinnya merasa terayomi dan nyaman.
Pendidikan
di Indonesia
Di
Indonesia, pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia-manusia yang cerdas,
bertanggung jawab, bermoral, berkepribadian luhur, bertaqwa, dan memiliki
keterampilan. Dengan anggaran 20 % dari APBN. Maka tujuan ini bukanlah hal yang
mustahil. Sudah banyak bukti yang mendukung adanya peningkatan pendidikan ini.
Prestasi anak-anak bangsa juga banyak mengharumkan bangsa di berbagai kancah
internasional.
Namun
kita tidak boleh lengah, masih banyak pendidikan yang belum mencapai tujuannya.
Ini diindikasikan dengan banyaknya kerusakan moral di kalangan pelajar, seperti
beredarnya video-video porno yang bisa diakses melalui ponsel. Ini akibat dari
bebasnya pengawasan dan akses informasi yang masuk kepada masyarakat, tanpa ada
kontrol dari pihak yang terkait. Korupsi dan kolusi serta nepotisme masih
banyak kita temui dalam birokrasi pendidikan, sehingga menimbulkan konflik
dikalangan internal dan berpotensi untuk menimbulkan konflik perpecahan.
Pendidikan juga masih banyak yang kita lihat belum berpihak pada rakyat umum.
Di kalangan masyarakat mahalnya pendidikan membuat mereka lebih memilih untuk
memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, sandang dan papan. Belum tercapainya
tujuan pendidikan diakibatkan oleh:
1.
Belum terintegrasinya pendidikan
moral (agama) dengan pendidikan lainnya. Ada sebagian anggapan bahwa pendidikan
agama hanya dilakukan di pesantren, padahal di sekolah umum pendidikan agama
juga diajarkan hanya saja porsinya masih sedikit, sehingga belum maksimal.
2.
Pendidikan etika hanya terbatas pada
pengetahuan.
3.
Minimnya keteladanan.
4.
Sikap hidup yang semakin materialis
dan hedonis
Untuk
meminimalisasi hal ini, maka ada upaya yang bisa dilakukan, antara lain,
perbaikan kurikulum pendidikan secara menyeluruh, misalnya dengan melakukan
pendidikan alternatif tambahan diluar kurikulum. Perbaikan sistem pengajaran
dan pendidikan, penguatan keteladanan, penguatan nilai agama dalam kehidupan.
C. Faktor Penyebab Tidak Relevannya Pendidikan
Adanya
ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan
Kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan
ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Rendahnya mutu dan relevansi pendidikan dipengaruhi
oleh beberapa faktor diantaranya:
1.
Proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang
berkualitas proses pelaksanaan pendidikan baik serta nyaman untuk
pelajar.
2.
Sarana dan prasarana dalam pendidikan.
3.
Anggaran - anggaran yang digunakan untuk menjalankan pendidikan tersebut.
4.
Belum didukungnya Hasil-hasil pendidikan oleh sistem pengujian dan penilaian yang melembaga
dan independen sehingga mutu pendidikan tidak dapat dimonitor secara
ojektif dan teratur.
5.
Kurikulum sekolah yang terstruktur dan sarat dengan beban menjadikan proses
belajar menjadi kaku dan tidak menarik.
6.
Sistem yang
berlaku pada saat sekarang ini juga tidak mampu membawa guru dan dosen untuk
melakukan pembelajaran serta pengelolaan belajar menjadi lebih inovatif.
7.
Tenaga pengajar yang kurang handal,
bila dibandingkan dengan tenaga pengajar negara lain.
8.
Tenaga Kependidikan sebagai figur utama proses
pendidikan.
9.
Tenaga kependidikan sebagai manajer pendidikan.
10.
Masalah pendidikan dan kualitas manajemen pendidikan.
11.
Manajemen kinerja guru.
D. Tingkat
Relevansi Pendidikan Di Indonesia
Rendahnya Relevansi Pendidikan Di
Indonesia dapat dilihat dari banyaknya
lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak
tahun 1990 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh
lulusan SMU sebesar 24,75 %, Diploma/S1 27.5%, dan PT sebesar 36.6 %,
sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi
untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak
putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan
masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil
pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya
kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik
memasuki dunia kerja.
Masalah pendidikan di Indonesia merupakan masalah yang serius. Bukti untuk
hal itu dapat disimak dari peringkat Human Development Index (HDI) yang
dipantau oleh UNDP yang menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia dari tahun
1996 bearada pada eringkat 102 dari 174 negara, tahun 1999 peringkat 105 dari
174 negara, dan tahun 2000 peringkat 109 dari 174 negara dan dalam prestasi
belajar yang dipantau oleh IAEA (International Association for the Evaluation
of Educational Achievement) di bidang kemampuan membaca siswa SD, Indonesia
berada pada urutan ke-26 dari 27 negara; kemampuan matematika siswa SLTP berada
di urutan 34 dari 38 negara; kemampuan bidang IPA siswa SLTP berada pada urutan
ke 32 dari 38 negara (T. Raka Joni, 2005).
E. Dampak dari Tidak Relevannya Pendidikan Di Indonesia
Relevansi Pendidikan yaitu masalah
yang berhubungan dengan relevansi (kesesuaian) pemilikan pengetahuan,
keterampilan dan sikap lulusan suatu sekolah dengan kebutuhan masyarakat
(kebutuhan tenaga kerja). Jika hal ini tidak terjadi maka hal inilah yang
menimbulkan dampak yang di sebut dampak tidak relevannya pendidikan, yaitu:
1.
Bagi perusahaan-perusahaan yang
masih harus mengeluarkan dana untuk pendidikan atau pelatihan bagi calon
karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki keterampilan kerja seperti
yang diharapkan.
2.
Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu
yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke
satuan pendidikan di atasnya.
3.
Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan
dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja.
4.
Jumlah angka
pengangguran yang semakin meningkat di Indonesia.
D. Upaya Meningkatkan/Memperkuat
Relevansi Pendidikan
Pembangunan pendidikan telah
membuahkan hasil yang relatif baik yang terlihat dari meningkatnya rata-rata
lama sekolah dan angka melek aksara penduduk usia lima belas tahun ke atas,
serta meningkatnya akses dan pemerataan pelayanan pendidikan, yang ditandai
oleh meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) pada semua jenjang pendidikan
dan angka partisipasi sekolah (APS) pada semua kelompok umur anak-anak usia
sekolah. Dalam rangka memperkuat akses pendidikan, beberapa tahun terakhir ini
telah dilakukan berbagai upaya untuk terus meningkatkan partisipasi pendidikan
sekaligus menurunkan kesenjangan taraf pendidikan antarkelompok masyarakat
melalui, antara lain, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dengan
memberikan perhatian lebih besar pada daerah tertinggal.
“Terkait dengan perencanaan pendidikan, ada satu hal yang perlu ditekankan, peran Bappenas ada pada tingkat makro di program sampai ke kegiatan. Jadi Bappenas mendesain berapa pagu tiap program dan berapa pula detailnya pada kegiatan”, jelas Kepala Sub Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian PPN/Bappenas, Tatang Muttaqien saat menerima kunjungan kerja DPRD Kabupaten Kutai Kertanegara, di Ruang Serba Guna, Gedung Bappenas, Kamis (13/10).
Lebih lanjut Pak Tatang mengatakan,
program-program tersebut adanya di level eselon 1 (dirjen) dan kegiatan adanya
di level eselon dua. Berbeda dengan di masa lalu, Bappenas saat ini fokus pada
kerangka, dan kerangka tersebut ditujukan untuk memperkuat capaian
sasaran-sasaran pendidikan yang sudah disepakati dalam trilateral meeting
rencana kerja pemerintah (RKP) antara kementerian PPN/Bappenas dengan
Kementerian Keuangan.
Sasaran-sasaran ini dicapai melalui program-program dan melalui ditjen- ditjen yang ada. Terkait dengan pemerintah daerah, Ditjen yang sangat berkaitan erat adalah Ditjen Pendidikan Dasar, Ditjen Pendidikan Menengah dan Ditjen Pendidikan Formal dan Informal.
Sasaran-sasaran ini dicapai melalui program-program dan melalui ditjen- ditjen yang ada. Terkait dengan pemerintah daerah, Ditjen yang sangat berkaitan erat adalah Ditjen Pendidikan Dasar, Ditjen Pendidikan Menengah dan Ditjen Pendidikan Formal dan Informal.
Pendidikan formal dan informal
termasuk di dalamnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Kalau kita lihat
sasaran yang ingin di capai dalam pendidikan intinya adalah bagaimana
memperkuat akses, kemudian kualitas dan relevansi pendidikan. Tentu saja akses
tersebut nanti akan tekait dengan penyediaan sarana dan prasarana”, ujar Pak
Tatang.
Menciptakan lapangan kerja baik untuk para pengangguran maupun
lulusan-lulusan baru yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Membuka
pelatihan-pelatihan baik pelatihan keterampilan maupun kursus bagi pengangguran
agar mereka dapat melakukan kegiatan. Bagi pemerintah sebaiknya
menentukan kembali kurikulum berdasarkan kebutuhan manusia ketika akan memasuli
dunia kerja. Memperluas dunia kerja dari berbagai aspek kehidupan yang
menjadi kebutuhan manusia. Dapat di rinci penanggulangan
relevansi pendidikan ini antara lain:
1.
Dapat menyediakan kesempatan
pemerataan belajar artinya semua warga negara yang butuh pendidikan dapat
ditampung dalam suatu satuan pendidikan.
2.
Dapat mencapai hasil yang bermutu
artinya: perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan
tujuan yang telah dirumuskan.
3.
Pendidikan efektif perlu
ditingkatkan secara terprogram.
4.
Pelaksanaan kegaitan kurikuler dan
ekstrakurikuler dilakukan dengan penuh kesungguhan dan diperhitungkan dalam
penentuan nilai akhir ataupun kelulusa.
5.
Melakukan penyusunan yang mantap
terhadap potensi siswa melalui keragaman jenis program studi
6.
Memberi perhatian terhadap tenaga
kependidikan (prajabatan dan jabatan).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah pembuatan makalah ini saya menarik beberapa kesimpulan tentang
makalah ini, diantaranya:
Relavansi Pendidikan adalah masalah
pendidikan mencangkup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran
yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang di
gambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Relevansi pendidikan dapat
dilihat dengan mengikuti alur input-proses-output. Masukan (input) dalam
komposisi tertentu yang diproses dengan metode tertentu akan membuahkan dua
macam hasil, yaitu hasil jangka pendek (output) dan hasil jangka panjang
(outcome).
Adanya ketidakserasian antara hasil
pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan Kurikulum yang materinya
kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik
memasuki dunia kerja. Data
BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukkan angka
pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 24,75
%, Diploma/S1 27.5%, dan PT sebesar 36.6 %, sedangkan pada periode yang sama
pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat
pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%.
Dampak yang di sebut dampak tidak
relevannya pendidikan, yaitu:
1.
Bagi perusahaan-perusahaan yang
masih harus mengeluarkan dana untuk pendidikan atau pelatihan bagi calon
karyawannya, karena mereka dinilai belum memiliki keterampilan kerja seperti
yang diharapkan.
2.
Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu
yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke
satuan pendidikan di atasnya.
3.
Banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu,
yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap
untuk bekerja.
4.
Jumlah angka pengangguran yang
semakin meningkat di Indonesia.
Penanggulangan
relevansi pendidikan ini antara lain:
1.
Dapat menyediakan kesempatan
pemerataan belajar artinya semua warga negara yang butuh pendidikan dapat
ditampung dalam suatu satuan pendidikan.
2.
Dapat mencapai hasil yang bermutu
artinya: perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan
tujuan yang telah dirumuskan.
3.
Pendidikan efektif perlu
ditingkatkan secara terprogram.
B. Saran
Setelah mengkaji makalah ini saya
memberikan saran, yaitu:
1.
Perbanyaklah membaca.
2.
Tentukan terlebuh dahulu arah
pendidikan yang akan dipilih.
3.
Pemerintah hendaknya membuka
lapangan pekerjaan yang sesuai dengan lulusan yang banyak menganggur.
4.
Perbanyaklah membuka
sekolah-sekolah yang di butuhkan lulusannya.
5.
Sebaiknya kurikulum tidak
terlalu sering di rubah.
6.
Tingkatkan peran serta guru dalam
memantau peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Ø
Tirtarahardja, Umar. Dan Sulo La.
2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Ø
Fityan. 2012. Masalah Pendidikan
Di Indonesia. Blogrol (Online). (http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/masalah-pendidikan-di-indonesia/,
Diakses 07 Januari 2013).
Ø
Idza ‘azamta. 2010. C. Masalah
Relevansi Pendidikan. Blogspot (Online).
(http://eeeemboh.blogspot.com/2010/12/c-masalah-relevansi-pendidikan.html,
Diakses 07 Januari 2013)
Ø
Kuntjojo. 2009. Masalah Efisiensi,
Efektivitas, Dan Relevansi Pendidikan Dalam Perspektif Manajemen Pendidikan. Blog at Wordpress (Online). (http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/14/masalah-efisiensi-efektivitas-dan-relevansi-pendidikan-dalam-perspektif-manajemen-pendidikan/,
Diakses 07 januari 2013).
Ø
Web Blog. 2012. Masalah Relevansi
Pendidikan. Blogspot (Online). (http://0900845.blogspot.com/2012/04/masalah-relevansi-pendidikan.html,
Diakses 07 Januari 2013).
Ø
nha’z active. 2012. Relevansi
Pendidikan. Blogspot (Online). (http://nha-active.blogspot.com/2012/01/relevansi-pendidikan.html,
Diakses 07 Januari 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)