Rabu, 17 Februari 2021

Anak Pertama

12:16pm, 29april2017

Pagiiii...... Bismilalhirahmanirahim
Seperti biasa krna hari ini hari libur segala aktifitas terburu-buru dipagi hari dibuat sesantai mungkin dikamar.

Oh iya,, salah lupa nama Saya Shafeyya. Saya anak pertama dalam keluarga ini dan Saya memiliki beberapa orang adik. Dari namaku kalian pasti sudah tau kalau Saya ini perempuan. Ada beberapa teman mamanggil Saya perempuan super happy dan tidak punya masalah atau kegelisahan. Kalau dilihat secara langsung sih, Saya memang seperti itu. Apa-apa selalu Saya bawa santai apapun itu. Tapi, coba tanyakan Saya pada tembok kamarku. 😂😅

Hari ini Saya mau bertanya tentang Anak Pertama dalam keluarga. Tapi, mau bertanya pada siapa ?? 
Rata-rata teman-teman Saya anak adalah anak kedua, kalau bukan ketiga. Posisinya Mereka semua adalah Adik, jadi mau bertanya sama siapa.

Menjadi Anak Pertama
Ada yg tau posisi apa itu ???
Bagaimana kehidupannya ???
Bagaimana Dia menikmati hidup ???
Bagaimana Dia seharusnya terhadap orangtuanya ???
Bagaimana Dia terhadap adik-adiknya ???
Apa perannya dalam keluarga ???

Diakah sumber informasi terbesar dalam keluarga. 
Diakah yang harus menjadi penyampai teguran pada semua keluarga.
Diakah yang harus berperan aktif dalam keluarga.
Diakah yang harus penyeimbang dalam keluarga.
Pokoknya semua hal dalam keluarga harus Dia tau dan harus bisa dikendalikan. Karena saat ini, Saya merasa seperti itu. Sepertinya seluruh beban dan kepentingan keluarga disimpan dipundaknya

Ketika Bapak ingin menasehati Mama tapi Dia masih segan dan menghindari pertengkaran/perbedaan pendapat. Pada Anak Pertamalah semua diceritakan, berharap Anak Pertama menyampaikan pada Mama.
Ketika Mama menginginkan sesuatu hal, pada Anak Pertamalah Dia menceritakan keinginannya, berharap Anak Pertama menyampaikan pada Bapak.

Ketika adik-adik yang melakukan kesalahan Bapak enggan menegurnya secara langsung berharap Mama yg harus menegurnya. Karena Bapak tipekal orang yang kalau marah tidak akan menegur dengan kata. Tapi, cukup lihat ekspresi dan sikapnya. Kalau Saya seperti itu membacanya, ketika masuk rumah atau Dia duduk diam dan melihat dengan tatapan keras kepada Saya. Berarti saat itu Saya melakukan kesalahan. 
Lain lagi kalau tipikal Mama, ketika Dia marah dan kecewa. Saya pasti langsung tau karena Mama akan langsung ngomel dan menyampaikan. Bahkan terkadang Dia tidak melihat dalam kondisi dan keadaan seperti apa Dia akan langsung menyampikan ketidaksukaan atau kemarahannya. Sikap Mama ini yang kadang membuat Saya malu atau kecewa, Saya berharap ditegur atau disampaikan secara baik-baik tidak didepan orang-orang secara langsung. Tapi, tidak apa-apa ini sudah menjadi pemakluman bagi Saya. Karena diusia segini Saya sudah paham karakter Mama yang ini.

Karena karakter Bapak yang tidak bisa marah dengan kata atau tindakan. Sering sekali Bapak berharap Mama menyampaikan teguran Bapak kepada Adik-adik. Tapi, ketika teguran tidak disampaikan Mama. Hal tersebut kadang Mama tidak sampaikan karena apa yang ingin disampaikan Bapak, sudah disampaikan Mama sebelumnya. Dan Mama adalah tipikal orang kalau apa yang membuat kecewa dan marah sudah disampaikan sekali lalu tidak didengarkan Dia tidak akan mengulanginya lagi. Baginya Mama, kalau sudah besar, sudah paham dengan satu kali teguran. Tapi, kadang bagi Bapak tidak seperti itu. Harus diulangi terus supaya Kita jauh lebih mengerti dan tidak mengulanginya lagi. Setelah tidak ada respon dari Mama, Bapak akan beralih lagi ke Anak Pertama karena kepada Anak Pertama lagilah Bapak menyampaikan, berharap Anak Pertama yang menyampaikan kepada Adik-adik. 
Hal seperti ini sering sekali terjadi, Bapak beranggapan bahwa Mama membela anak-anaknya dalam keadaan salah. Padahal sebenarnya tidak, hanya saja Mama tidak menyampikan lagi karena sudah disampaikan sebelumnya. 

Dan inilah sumber masalah lain yang paling sering muncul. Ketika Adik-adik membuat kesalahan sudah dimarahi Mama, Lalu tiba-tiba Bapak juga marah lagi kepada Mereka. Mama seakan membela tanpa henti tak rela jika Bapak memarahi anak-anaknya lagi. Bagi Mama kalau sudah Saya yang memarahi mereka. Jangan lagi Bapak ikut Marah, karena kasihan anak-anak tidak ada lagi pelarian. Beberapa kali hal ini terjadi karena memang Adik melakukan kesalahan yang terus diulang-ulang hingga Bapak juga tidak bisa diam lagi seperti biasa. Apalagi jika kesalahan itu berupa kebohongan atau ingkar janji. Misal, janjinya pulang harus sebelum magrib. Tiba-tiba pulangnya lewat, bahkan pulangnya bukan lewat lagi. Tapi, kelewatan bahkan sampai jam 10 atau 11 malam kalau hal seperti janji dan kebohongan Bapak tidak bisa toleril hal itu. Marahnya akan ikut dengan kata, bukan cuma ekspresi lagi seperti biasanya. Untuk Adik-adik tak sadar kalian selalu menjadi orang yang membuat Bapak dan Mama berargumen keras satu sama lain ?? 

(Surat Untuk Adik-adik Saya)
De' Saya jadi teringat beberapa tahun lalu..
Alasan Saya meningalkan kegiatan maupun organisasi.
Yah,, hanya karena alasan ini berada dalam dunia organisasi itu membutuhkan waktu yg banyak
Sementara pemikiran kedua orang tua Kita mengenai dunia luar apalagi dimalam hari
Itu penuh dengan ketakutan dan kecurigaan Bapak dan Mama
Masalah terus muncul ketika Saya terlambat pulang
Bapak dan Mama sering tidak bicara karena Saya yang melakukan kesalahan
Belajar dari ini Saya tahu orang tua Kita dan orang-orang lain berbeda
Saya bukan menyeruhmu meninggalkan Dunia Organisasi seperti Saya
Saya hanya meminta ikuti aturan main yg telah ditetapkan dirumah
Aturan itu bukannya kamu telah melaluinya bertahun-tahun
Kenapa sekarang Kamu tidak bisa memenuhinya ??
Kembali ke rumah sebelum Magrib !!
Hanya itu Saja yang Bapak dan Mama tekankan kepada Kita semua, kalaupun harus ada yang diurus harus lewat dari jam Magrib
Telfon atau sampaikan sebelum Kita berangkat dipagi hari. Karena Bapak dan Mama juga masih kasih keringan sampai jam 9 malam bukan. Yang penting Kita sudah isin dari awal. 
Kalau beralasan, mana bisa menentukan waktu. Kita ini bukan yang mengatur waktu untuk kuliah atau rapat tiba-tiba. "iya, memang bukan. Tapi, bukankah juga sudah dikasih keringanan sampai jam 9 malam". Ini Saya hanya bercerita yah, bukan memaksa untuk mengikuti. Saya hanya memberi gambaran (dulu ketika Saya, ada kegiatan kuliah atau apapun itu diatas jam 9 selesainya. Saya memilih untuk tidak ikut dan milih pulang)
De' mungkin Saya sesensitif ini, karena kondisi Mama yang tidak sehat. Tolong jangan tambah beban fikirannya.
Saya tidak bisa memastikan isi fikiran Anda sekarang ini. Mungkin, ini mungkin yah. Pasti pernah terbesit dalam fikiranmu "aduh, repot banget sih. Capek deh dengan aturannya".
Saya hanya ingin menyampaikan. Ketakutan Mama dan Bapak ini beralasan. 
Merekalah yang menjaga Kita sampai sekarang ini, Mereka tidak akan mungkin membiarkan sesuatu terjadi kepada Kita. Dan dunia luar itu apalagi di malam hari, tidak ada yang bisa menebak atau memprediksi kejadian yang akan terjadi.
Tidak ada aturan lain yang Mama dan Bapak tetapkan kepada Kita, kecuali waktu !!
Masa hanya satu ini saja tidak bisa Kita penuhi.

Sebelum kemarahan Bapak memuncak. Saya sebenarnya sering menegur kaliankan setiap kali melakukan kesalahan. Kalau boleh jujur sebenarnya itu, Saya sudah menyaring semuanya dari lama. Setiap Melakukan kesalahan pasti Bapak cerita sama Saya. Saya sudah tau pasti Bapak minta Saya menyampaikan, tapi masih Saya tahan-tahan karena Saya juga tau sebenarnya ini bukan kapasitas Saya untuk menyampikan. Ini sebenarnya kapasitas Orangtua Kita, tapi taukan Bapak seperti apa orangnya. Marahnya tidak akan mungkin bersuara kalau Kita tidak keterlaluan
Dan akhir-akhir ini kayaknya sudah menjadi puncak Saya juga menyaring dan menahan semuanya, karena Adik terus melakukan kesalahan yang sama secara berulang. Sementara kondisi Mama juga tidak sehat. Saya akhirnya menengur dengan kalimat yang super panjang dan suara super keras untuk pertama kalinya.
Maaf untuk sikap Saya itu !!!


Begitulah kira-kira tugas Saya sebagai Anak Pertama. Tapi, Saya menjalaninya dengan senang hati. Karena kemana lagi Mereka akan bercerita kalau bukan kepada Saya sebagai Anak Pertama mereka, belahan jiwa dan rasa pertama Mereka. Namun, yang paling berat lagi bagi Saya sebagai Anak Pertama.
Begitu Anak Pertama menyampaikan apa yang disampaikan atau apa yang dipahami dari cerita keluarga.

Kamu itu selalu membela Bapak
Kamu itu selalu membela Mama
Kakak Kamu itu terlalu repot Bapak dan Mama saja tidak pernah komplent ini dan itu

Kalau begini Saya sebenarnya bingung harus menjawab apa. Karena tidak mungkin Saya menceritakan full apa yang diceritakan kepada Saya. Karena pasti akan ada lagi argumen.
Kenapa tidak langsung Bapak cerita/kasih tau Saya ??
Kenapa tidak langsung Mama cerita/kasih tau Saya ??
Kenapa Bapak dan Mama tidak pernah kasih tau Saya ??
Kalau untuk pertanyaan ini, Saya juga lagi mencari tau jawabannya. Karena terkadang Saya juga bingung dan ingin langsung mengatakan kepada Mereka semua. 
Kenapa tidak Kita yang sampaikan langsung ??
Kenapa ceritanya harus pada Anak Pertama ??
Kenapa Anak Pertama seakan sebagai pemegang kontrol komunikasi ??
Saya bahkan kadang terdiam dan meneteskan airmata. Sambil mempertanyakan semuanya sendiri. Karena tidak jarang apa yang Saya sampaikan kepada Meraka justru memperoleh tanggapan yang menyakitkan hati Saya. 
Kemana Anak Pertama harus bercerita, tidak taukah Kalian. Anak Pertama juga butuh untuk didengarkan ceritanya. Kami para Anak Pertama juga punya pesan untuk disampiakan kepada Kalian. Hanya saja Kami Anak Pertama menahan. Karena tidak mungkin Kami bercerita kondisi Kami kepada Kalian yang sudah memiliki masalah juga.
Kami Anak Pertama memilih Menahan walaupun tidak Mampu
Kami Anak Pertama memilih Kuat walaupun Kami Lemah
Kami Anak Pertama memilih Tertawa walaupun sebenarnya Hati Kami Menangis

Bagaimanakah seharusnya Anak Pertama bersikap ??
Haruskah Anak Pertama menutup mata dan telinga agar tak terdengar Kamu membela siapa !!
Haruskah Anak Pertama menutup mata dan telinga dengan cerita kalian !! 
Haruskah Anak Pertama mendengarkan lalu Diam !! 


Siapa yg salah Orangtuakah yang terlalu membuka semua.y pada Anak Pertama ??

Untuk sementara Saya menguatkan diri Saya dengan kalimat ini "Mungkin bagi orangtua, Anak Pertama adalah orang yang bisa melihat waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini". Karena yang pegang teguh orangtua Saya  tidak pernah salah. Mereka adalah orang-orang hebat dalam hidup Saya. 

Orangtua adalah orang pilihan Allah yang terbaik untuk Kita anak-anaknya.

Akhir-akhir ini Saya akhirnya mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan Anak Pertama.
Kenapa harus semua selalu Anak Pertama yang menjadi tempat berbagi cerita dan tumpuan komunikasi dalam sebuah keluarga ??
Karena....
_Anak Pertama adalah penikmat kasih dan cinta pertama secara penuh dalam keluarga sebelum dibagi keadik-adik
_Anak Pertama adalah orang pertama yang diperjuangkan orangtua dalam hidup secara penuh
_Anak Pertama adalah orang pertama yang dipenuhi segala keinginan secara sempurna tanpa ada pembagian
Semua yang dimiliki Orantua diberikan secara penuh kapada Anak Partama.

Jadi, kenapa Saya harus bersedih dan kecewa. Jika, tanggung jawab, beban dan masalah dilimpahkan kepada Kami Anak Pertama. Ini adalah pertanda bahwa kedua orangtua Kami Anak Partama memberikan kepercayaan lebih terhadap Anak Pertama.

Kenapa juga baru sekarang mempertanyakan hal seperti itu, bukankah sudah sejak dulu Kita Anak Pertama juga sudah menjadi tameng untuk Adik-adik Kita. 
Pasti Kita sering mendengar Kalimat ini
"Aduh, Kakak jangan Ganggu Ade'"
"Kenapa lagi itu Ade', bisa Nangis Kakak ??"
"Kakak ini selalu bikin berantakan mainan"
Setiap ada kejadian yang buruk dan Kita sedang bersama Adik selalu Kakak menjadi Kambing Hitam Orangtua, untuk menenangkan Adik. 
Inilah salah satu mungkin kesalahan Orangtua Kita dulu. "Ehhh Salah, bukan kesalahan". Tapi, ketidak tahuan Orangtua tentang tanggung jawab yang harus diajarkan sejak dini kepada semua anak-anak. Jangan beralasan "Si Adik, masih kecil belum tau apa-apa". Kalimat ini akan membuatnya tidak bertanggu jawab hingga Dia tumbuh dan besar nanti.
Adik akan terus mencari tameng untuk kesalahan-kesalahannya dan akan selalu merasa benar. 
Adik akan selalu merasa setiap tidak apa-apa melakukan kesalahan nanti juga dibela.

Saya paham semuanya sekarang. Kenapa Anak Pertama harus dituntut lebih kuat tanggung jawabnya. 
Saya Anak Pertama !!
Yang memang harus memegang tanggung jawab penuh, karena Saya di beri Mahkota yaitu "KAKAK"
Saya Anak Pertama !!
Yang memang harus memegang tanggung jawab penuh, karena orang tidak memanggil Orangtua Saya dengan nama Adik-adik Saya dibelakangnya. Tapi, dengan Nama Saya di belakangnya Bapak dan Ibu dari Anak Pertama.

Namun, jika Anak Pertama boleh meminta untuk orangtua atau calon orangtua:
Mari belajar membagi tanggung jawab Anak Pertama. 
Mari belajar memdengarkan isi hati Anak Pertama
Mari belajar tidak menuntut hal yang lebih pada Anak Pertama
Anak Pertama memiliki moodswiing yang harus diperhatikan

Nanti Saya tulis tentang MoodSwiing Anak Pertama yah... 

Senin, 15 Februari 2021

2th Terberat

19 Januari 2019
_Tempat Tunggu Ruang Operasi

Ini bukan pertama kalinya Saya mendengar Kata Operasi dalam hidup Saya. Yang pertama adalah ketika Tante melakukan Operasi Cesar untuk anak pertamanya di RSA. _______. Dan yang kedua adalah Ketika Kakek Aji atau Suami dari Saudara Nenek Saya yang sering Kami sebut dengan Aji Tua, melakukan Operasi Prostat di RSUD. _______ ____. Untuk operasi Tante, Saya tidak terlalu takut karena hanya mendengar semua kabar melalui Via telfon. Karena waktu itu Saya masih kuliah, dan ketika hari Tante operasi Saya seharian full di kampus. Jadi, Saya datang dalam keadaan Tante sudah sadar dan bocah kecilnya sudah dalam kotak inkubasi. Kalau hari Operasi Aji Tua sebenarnya Saya juga berharap jadwal Saya full di Sekolah dan tidak harus menunggu di ruang tunggu operasi. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya Saya harus bergegas pulang karena Aji Tua dan seluruh keluarganya adalah orang jauh dan tidak tau bagaimana konsidi Makassar. Mereka semua adalah orang dari Sulawesi Tenggara sehingga Saya harus mendampingi Mereka. Sekitar jam 9 lewat, Saya langsung meninggalkan sekolah karena tugas sudah bisa dialihkan kepada teman Saya. Dan juga dari pagi Saya juga sudah terus-terusan ditelfonin Tante, karena ada beberapa hal yang dibutuhkan pihak rumah sakit yabg harus dicari di luar sementara Mereka tidak ada yang tau hari kemana dan bagaimana. Bisa bayangin bagaimana kondisi Saya saat itu yang sangat takut dengan kata operasi tapi harus berlari keluar masuk ruang operasi untuk berbicara pada pihak rumah sakit. Kalau Saya ingat-ingat rasanya seperti dada Saya kembali sesak. 
Kemana Mama tidak menemani keluarganya, itukan keluarga dari Dia ?? 
Mama Saya, baru saja sekitar 4 hari keluar dari RS. __________ karena penyakit maagnya kambuh. Entah sudah beberapa bulan ini Mama Saya juga keluar masuk rumah sakit karena penyakit maagnya sering kambuh dan tidak bisa lagi ditoleril dengan obat minum. Jadi harus keluar masuk rumah sakit untuk kontrol. Sebenarnya ada yang membuat aneh dalam penyakit Mama, kerena Mama tetap minum obat dari dokter tapi sakitnya juga masih sering kambuh. Sudah dibawa juga kesegala tempat dokter praktik tapi hasilnya tetap sama hanya penyakit maag. Sampai pada akhirnya salah satu Om memutuskan untuk Mama dibawa ke kampung untuk mencoba obat tradisional. Saya memutuskan mengikuti saran itu, sekitar semingguan Saya di rumah saudara nenek. Untuk mengajak Mama berobat, itu dalam kondisi bulan Ramadhan. Bapak terpaksa harus mengurus segala menu buka puasa dan sahurnya sendiri. Bapak bilang "bawa Mama kemana saja yang penting Dia sembuh" berbekal kata ini Saya siap membawa kemanapun. Sekitar seminggu berobat kondisi Mama membaik, Kami memutuskan pulang karena kasihan juga Bapak bulan Ramadhan cuma bertiga. Belum cukup 2 hari di rumah, Mama kembali tidak dapat menahan sakitnya. Saya tiba-tiba teringat pesan orang mengobati "kalau sampai rumah, dan Mama merasa sakit lagi langsung bawa kedokter siapa tau Allah kasih lihat sakit yang sebenarnya"
Malam itu juga Saya memutuskan membawa Mama ketempat praktik dokter yang selama ini menanganinya di rumah sakit. Kebetulan tempat praktik itu diketahui Adik Saya, yang juga pernah praktik di rumah sakit Mama sering dirawat. 

Yang membuat Kami semua kaget malam itu adalah hasil USG pemeriksaan yang mengatakan bahwa yang membuat Mama sering kesakitan bukan karena maag, tapi karena penyakit Batu Empedu. Dan itu sudah tidak bisa dihancurkan dengan obat karena sudah besar. Saya langsung menyangga perkataan dokter "bagaimana bisa Dok ? Kenapa langsung membesar, belum cukup sebulan Mama Saya dirawat di rumah sakit oleh dokter dengan segala macam pemeriksaan USG juga. Katanya tidak ada apa-apa, ini hanya penyakit maag saja. Lalu kenapa tiba-tiba ada Batu Empedu yang besar". Kita semua terdiam dalam satu ruangan, karena Dokter juga merasa heran dan tidak percaya. "Nak, ini harus dilakukan operasi. Saya kasih rujukan dari klinik ini langsung ke UGD rumah sakit Kita yah".

Dengan hati hancur dan mata berkaca. Yang tak mungkin Saya tampakan didepan Mama, Saya mengiyakan sambil melihat ke arah Mama yang masih sangat terlihat santai dengan keputusan Dokter. "siapa tau ini jalan Alla supaya Saya sembuh Nak, Dan tidak dikasih sakit lagi". Saya tidak ingin membuat Mama takut dan khawatir, karena Dia pasti tau Saya takut dan khawatir sampai bilang begitu. Hanya menjawab "okey"

Kami lalu pulang kerumah, Saya langsung memilih masuk kamar. Dan terdengar lirih dari luar Mama, menjelaskan hasil pemeriksaan pada Bapak. Sementara Saya dikamar meraung-raung penuh air mata, tapi tanpa suara. Bagaimana hancur Saya kembali mendengar kata operasi untuk yang ketiga kalinya. Harinya tiba Saya membawa Mama ke UGD rumah sakit untuk mendaftar dalam antrian operasi. Tapi, sebelum itu Kami diberikan ruang perawatan dulu sambil menunggu jadwal Dokter Bedah Digestif. Karena kebutulan rumah sakit rujukan Mama tidak ada ahli Bedah Digestif. Berhari-hari Kami menunggu, Mama sudah melakukan pemeriksaan lengkap kembali USG, CT-Scan. Setelah sekitar seminggu akhirnya ada kabar bahwa hari ini Dokter yang ditunggu akan datang, tepat setelah sholat ashar dokterpun datang dan memeriksa. "okey, siap yah Buk'. Besok Operasi". Dengan rasa takut dan gemetaran Saya mengucapkan "alhamdulillah" karena yang ditunggu semigguan akhirnya tiba. Sekalian membuat dada Saya semakin tidak karuan. 
Tiba-tiba seorang perawat datang memanggil Saya. "De' Dokter mau bicara dengan Kita". Di tengah dada Saya yang tidak karuan, Saya lalu berjalan ke ruang perawat sambil bertanya-tanya "ada apalagi ini Ya Allah". Firasat Saya benar ternyata ada lagi yang lebih mengagetkan. Mama diputuskan untuk tidak bisa melakukan operasi di rumah sakit ini. Karena ada satu lagi pemeriksaan yang harus dilakukan karena dari pemeriksaan CT-Scan ada yang tidak jelas. Terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit yang menurut Saya waktu itu adalah hanya untuk orang-orang yang sakitnya sudah sangat parah. Ditempat itu juga didepan Dokter air mata Saya menetes "De' jangan nangis tidak apa-apa, cuman dipindahkan karena alat disini tidak ada, Mama tidak apa-apa. Disana juga lebih bagus alatnya kalau untuk Operasi".

Saya yang berjalan kekamar Mama, sambil menahan air mata. Akhirnya tumpah pada saat Saya menjelaskan ke Mama. Saya tidak lagi dapat membendung air mata depan Mama dengan keputusan Dokter ini. Kekuatan Saya, menjaga air mata berbulan-bulan didepan Mama akhirnya tidak bisa Saya tahan. Saya menangis sejadi-jadinya didepan Mama, mempertanyakan ujian Allah ini sampai kapan. Ditambah lagi pada saat kabar ini datang posisi Saya hanya berdua dengan Mama. Saya makin merasa sendirian, "dimana kalian semua sekarang, Saya dan Mama lagi seperti ini" gumam Saya dalam hati. 
Singkat cerita Kami pulang ke rumah. Layaknya orang-orang pulang dari rumah sakit harusnya bahagia. Ini justru terbalik dalam hati Saya "bagaimana nanti di rumah sakit itu yah ?
Saya belum pernah mengurus sanak saudara atau keluarga disana ? 
Bagaimana pemeriksaan Mama selanjutnya disana ?"
Untuk sedikit mengatasi kegelisaan saat mencoba mencari tau tentang Dokter Bedah Digestif. Lalu Saya menemukan bahwa Dokter Spesialis ini hanya ada 9 orang di provinsi ini. Dan di rumah sakit rujukan Mama ini ada beberapa. Tapi, kebetulan ada salah satu teman Mama yang suaminya pernah dioperasi oleh Dokter yang kebutulan meminta Mama dirujuk ke rumah sakit tempatnya memeriksa. Saya akhirnya sedikit merasa legah, karena teman Mama sudah bicara dengan Dokter yang akan memeriksa Mama nanti. Harinya tiba Saya menemani Mama ke rumah sakit tersebut Kami menunggu seharian akhirnya kami bertemu Dokter dan langsung menanyakan ini Keluarganya Pak Rahmat, "iya, Dok". Yang kemarin rujukannya Saya minta kesinikan. Satu bulan berjalan, hampir setiap hari Saya berdua Mama bulak-balik RS, karena ini rumah sakit terbesar di kota ini. Hanya satu pemeriksaan selesai sehari, begitu terus sampai hampir 2 bulan akhirnya Mama bisa melakukan pemeriksaan MRI. Hasil pemeriksaan MRI keluar sekitar 5 atau 6 hari, dari 2 bulan semenjak Mama dirujuk ke rumah sakit itu baru kali ini Kita bisa tinggal dirumah seharian. Biasanya setiap hari selama hampir 2 bulan, Kami berangkat jam 7 pagi dari rumah dan pulang jam 3 atau 4 sore. Selama pemeriksaan Mama hampir 2 bulan, Kami hanya sekali bertemu Dokter yang merujuk Mama kesini. Selebihnya Kami bertemu asisten Dokter atau Dokter lain.

Setelah hasil MRI keluar dan diperiksa oleh ahli Bedah Digestif, selanjutnya Mama diputuskan untuk bertemu Dokter Anastesi. Setelah Dokter Anastesi melihat hasil pemeriksaan, ternyata penyakit Diabetes Mama menggangu sehingga harus dinormalkan dulu. Dikirim lagi Kita pada Poli Spesialis Penyakit Diabetes setalah bulak-balik hampir seminggu, akhirnya normal. Kami diputuskan untuk pemeriksaan lagi di Poli Bedah Digestif, yang membuat Saya dan Mama bersyukur adalah katanya ada perubahan pada Batu Empedu Mama. Jadi, sebaiknya berobat saja dulu. Dengan Mata yang berbinar, Hati yang luar biasa bahagia. Sambil mengantri obat di apotik Saya tidak berhenti senyum-senyum sendiri. Rasanya seperti dada Saya yang selama ini ditimpah batu besar, telah diangkat hari ini. "Alhamdulillah"

Sekitar beberapa bulan berjalan akhirnya Kami bisa merasakan mudik lagi. Setelah pas lebaran Idul Fitri kemarin untuk pertama kalinya Kami memutuskan tidak mudik, karena konsidi Mama yang harus kontrol terus. 
Mama memang tidak lagi merasakan sakit pada area perutnya. Tapi, ada yang aneh karena satiap Mama ketemu keluarganya. Mama dibilang kulitnya menghitam dan kurus, "iya, hitam mungkin karena sering Saya garuk tidak tau kenapa Saya selalu gatal diseluruh tubuh".
Saya lalu memperhatikan, setiap hari bahkan dalam keadaan tidurpun Mama terus menggaruk sekujur tubuhnya, berarti ada yang salah ini. Saya mencoba menyampaikan ke Mama
"Ma' kenapa gatal terus ??"
"mungkin karena minum terus obat gula"
"Ma' nanti kalau kontrol sama Dokter Rudi, tanyakan rasa gatal yang dirasa. Siapa tau ada obat lain yang cocok"
"iya, nanti kalau Kita sudah pulang, dan Saya kontrol"

Belum sampai waktunya Kita pulang, karena libur semester belum selesai. Kami memutuskan pulang hari itu juga karena Mama secara tiba-tiba sakit perutnya kambuh. Saya tidak tau seperti apalagi hati dan kepala Saya, "kenapa ini ?? Ada apa lagi ini Ya Allah ?? Kenapa muncul lagi sakitnya ??"
Sesampainya dirumah, Saya lalu mempersiapan lagi semua berkas pemeriksaan Mama. Untuk besok dibawa ke Puskesmas, sesampainya di Puskesmas Kami sebenarnya ingin langsung meminta rujukan ke rumah sakit tempat Mama diperiksa terakhir. Tapi, kata pihak Puskesmas tidak bisa. Kita harus melewati dulu rujukan ke faskes rumah sakit setelah Puskesmas, kebetulan Mama dirujuk ke RS. ______ . Dan di rumah sakit itu ada saudara tetangga yang bekerja, bisa mengambilkan Mama nomor antrian. Sesampainya disana Kami bertemu dengan Dokter yang minta Kami untuk kontrol lagi. Dalam fikiran Saya, kalau hanya kontrol begini terus tidak akan ada jalan keluar. Akhirnya Saya memutuskan untuk berhenti dir umah sakit tersebut. Sekitar sebulan lebih berjalan, Saya memutuskan lagi untuk mencari tau tempat Dokter Ahli Bedah Digestif yang memeriksa Mama di rumah sakit beberapa bulan lalu. Melalui internet, Saya mendapat informasi bahwa salah satu rumah sakit tinggkat dua yaitu RS. __________. Memiliki dua Dokter Bedah Digestif yang secara bergantian setiap siang dan malam membuka Poli pemeriksaan di rumah sakit tersebut. 

Kami memutuskan untuk kembali meminta rujukan dari Puskesmas terdekat untuk ke rumah sakit tersebut. Dan "alhamdulillah" rujukan Mama betul-betul ke rumah sakit yang Kita inginkan. Siang itu juga Adik Saya, membawa rujukan Mama untuk didaftarkan di Poli rumah sakit itu. Belum sampai Adik Saya di rumah, tiba-tiba dikabarkan bahwa malam ini Poli Bedah Digestif tidak dibuka. Karena Dokter tidak datang. 
Keesokan harinya, Adik Saya lalu mendaftar lagi dan setelah sholat magrib Saya dan Mama lalu ke rumah sakit itu. Dan begitu kagetnya Saya dan Mama, karena ternyata Dokter yang akan memeriksa Mama adalah Dokter yang memang Saya harapkan. Dokter yang memeriksa Mama di rumah sakit nomor satu waktu itu. Kagetnya lagi Dia masih mengenali Saya, selain karena waktu itu Dia tau Kita keluarganya Pak Rahmat. Dia juga tau Saya karena waktu Kita pertama kali ketemu mungkin, ada kejadian yang Saya alami dan Saya lakukan didepan Dokter.
"ini yang sama Mama dulukan di RS. _______, bagaimana Mama ?? 
"ini Saya bawa Mama lagi Dok' "
"kenapa ?? (Dengan muka aneh seperti bertanya-tanya)
"Mama, tidak jadi dioperasi dulu Dok' di RS itu. Saya juga tidak tau bagaimana intinya tiba-tiba setelah pemeriksaan anastersi, lalu gula. Kembali ke Poli Bedah Diges, katanya ada perubahan sebaiknya minum obat saja".
Masih dengan muka aneh, bertanya-tanya. 
"kenapa berhenti paksa pemeriksaannya ?"
"tidak Dok, memang Dokter di RS itu sudah kasih resep obat katanya kalau sudah tidak sakit sudah selesai berarti. Tapi, ini berbulan-bulan Mama rasa gatal terus badannya sama badannya juga makin menghitam. Jadi, Saya putuskan untuk pemeriksaan lagi. Mau minta rujukan lagi ke RS yang dulu tapi sudah tidak bisa, katanya harus lewat RS tingkat ini dulu".
"Jadi mau ke RS sana lagi ?" (Dengan ekspresi muka bercanda dan sedikit ketawa tipis)
"Dok', apa tidak bisa di RS sini saja ? Capek Saya Dok' di RS sana. Sekitar 3 bulan Saya sama Mama kesana-kemari tidak ada kepastian. Kasihan Mama seharian full duduk tidak tau apa jalan keluarnya" (Saya yang berbicara dengan mata berkaca-kaca, yang seandainya mata Saya berkedip pasti air matanya sudah jatuh) 
"bagaimana disini tidak ada alat MRI ?"
"Mama sudah MRI Dok' disana waktu itu, apa tidak bisa pake hasil itu saja Dok' ?"
"mana hasilnya, bawa tidak ? Sini Saya lihat"

Saya melihat Dokter membuka segala macam berkas pemeriksaan Mama, dari USG, CT-Scan, MRI. 
"Nanti Jumat Mama, masuk lewat IGD minta ruangan. Sabtu pagi Operasi"
Saya yang dulu setiap mendengar kata operasi, dadanya seperti ditindih benda keras. Malam ini justru merasa lega, entah karena apa. Mudah-mudahan ini jawaban dari semua perjuangan Kami selama 2 tahun. 

Pada hari ini Saya kembali menunggu didepan ruang operasi. Dengan perasaan yang jauh lebih tenang, jauh lebih santai dari sebelumnya Saya menunggu Aji Tua dan Tante Saya. Saya berfikir mungkin karena ini sudah yang kesekian kalinya dan Allah selalu memberikan hasil terbaik setiap kali ada kata Operasi dalam keluarga Kami. 
Mama masuk ruang operasi sekitar jam 10pagi, hingga pukul 12 lewat masih juga belum ada kabar atau tanda-tanda operasi Mama selesai. Setelah melakukan sholat Dhuhur, mulailah dada Saya menjadi sesak, kepala seperti orang keliyengan, pusing dan melayang-layang. 
"ada apa ini ?? Kenapa lama sekali Mama operasi ?? Perasaan kemarin Tante dan Aji Tua sebentar doangk. Ada apa Ya Allah"
Kalimat-kalimat itu terus berputar dikepala Saya, sampai Say tak sadar terduduk dilantai tepat depan pintu ruang operasi. Beberapa keluaraga menghampiri Saya, dan juga duduk didekat Saya. Mereka juga tidak ada yang berkata apa-apa hanya duduk terdiam menatap pintu ruang operasi. Saya juga memilih untuk tidak berkata apa-apa karena, takut jika Saya justru menangis. Sampai akhirnya waktu sholat ashar tiba, Saya memutuskan untuk segera ke musholla rumah sakit untuk sholat. Dengan sholat Saya bisa menumpahkan rasa sesak didada Saya, Saya juga bisa meneteskan air mata Saya sedikit tanpa dilihat orang.
Setelah sholat Saya bergegas. Dan "alhamdulillah" keluarga Saya mengabarkan kalau Mama sudah dipindahkan di ruang ICU, tapi belum bisa dijenguk nanti sekitaran jam 5. Dan harus masuk secara bergantian.
Terimakasih Ya Allah

Sebenarnya ada beberapa cerita yang singkat keruwetan dan kerepotannya. Seperti sebelum masuk rumah sakit hari jumat itu ada beberapa yang harus diurus dipuskesmas. Belum lagi beberapa Dokter atau Klinik Praktik yang Kami datangin untuk mencari jawaban sakit Mama yang sebenarnya.
Saya selama Mama di RS dan Kontrol kiri kanan, Saya memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Masuk sekolah kadang seminggu 1kali, seminggu 2kali. Bahkan pernah hampir full tidak masuk. Saya juga waktu itu sudah pasrah kalau pihak sekolah memutuskan untuk mencarikan Saya penganti. 
Selain itu Saya juga mau bilang Terimakasih untuk beberapa teman yang sudah memberikan waktunya menggantikan Saya, dalam setiap kelas yang tidak Saya hadiri.

21 Februari 2019

Sebulan lebih sehari. Ehh,, hampir 2 hari deh, krna ± 2jam lagi sudah 22 Februari 2019

"Alhamdulillah"
Semakin membaik. Sedikit demi sedikit mulai melakukan aktivitasnya lagi. 
"Tidak boleh Full yah Mamakee"
"Selama Saya masih bisa mengerjakan, selama Saya masih ada"
"Kalau Saya tidak adapun, tolong kerjakan yang semampu Kita. Yang sering Saya tegurkan jangan !! yang berat-berat jangan"
"Kalau tdak ada yang mau kerjakan biarkan seperti itu"
Seperti itulah kira-kira isi pesan Saya kepada Mama setelah Dia melakukan operasi sebulan lalu. Tapi, pesan ini tidak Saya sampaikan secara langsung. Kalau tidak salah Saya memasangnya lewat Story Whatsap, yang kemudian Saya meminta Adik bungsu Saya untuk meminta Mama membacanya. Karena Saya tidak tau bagaimana menyapaikannya, karena semenjak operasi itu Mama sekarang lebih sensitif.
Dokter memang pernah menyampaikan kepada Saya bahwa "Nak' banyak sabar yang, karena biasanya itu setelah operasi orang akan lebih cepat marah, dan tersinggungan".
Tante Nuri juga pernah menyampaikan hal yang sama
"Nak' bagaimana Mama ??"
"alhamdulillah, sudah baik Tante. Sudah bisa jalan-jalan dan beraktifitas sedikit. Walaupun masih ada selang dan kantung diperutnya"
"Nak' harus belajar ikhlas yah, urus Mama. Harus banyak-banyak sabar dan istigfar karena setelah operasi itu Batu Empedu itu. Biasanya orang jadi sensitif, apa-apa marah, apa-apa jengkel. Kasih tau Bapak sama adek-adek juga".
Seperti itulah kira-kira obrolan Saya dengan Dokter dan Tante Nuri yang berpengalaman dibidang ini. 
Makanya sebulan ini Saya lebih memilih untuk selalu mengiyakan dan mengamati apa yang terjadi disekeliling. Saya takut untuk menyampaikan pendapat apalagi berargument dengan orang-orang dirumah, karena takut Mama yang merasa.

2 hari lagi, Saya pamit liburan yah mamakee. Ingat paket liburan Saya ini, awalnya tidak mau Saya ambil karena mempertimbangkan kondisi Mama yang belum stabil. Akibat operasi bulan lalu. Tapi, diam-diam Mama yang mengiyakan. Kenapa bisa Mama yang mengiyakan, padahal inikan paket liburan sekolah ?
"Mama, juga baru dapat informasinya minggu lalu. Katanya dari Kepala Sekolah PAUD Insan Manfaat yang merupakan salah satu sekolah dari Rumah Gerakan Berbuat Baik (RGBB). Bahwa ada beberapa Tenaga pengajar dari beberapa Yayasan yang akan diajak liburan ke Bali, salah satunya anaknya Kita. Tapi, Dia tidak mau karena katanya Kita baru habis operasi.
Mama juga merupakan salah satu anggota dari RGBB, jadi sedikit banyak Mama tau orang-orang dalam lembaga tersebut. Dari Merekalah Mama dapat informasi itu dan langsung "Mengiyakan" tanpa memberitahu Saya. "daftarkan saja namanya Ibu, nanti Saya kasih tau Dia. Saya sudah bisa beraktifitas sekarang, sudah bisa kerja pelan-pelan. Dia butuh liburan itu, kasihan Dia berbulan-bulan urus Saya terus".
Begitulah kira-kira inti percakapan Mama dengan temannya.

Sebenarnya liburan ini ditawarkan pihak Yayasan kepada Saya, tepat hari pertama Saya masuk sekolah setelah izin untuk jagain Mama di rumah sakit sekitar semingguan lebih. Tapi, Saya memilih  untuk merahasiakan dan tidak menerimanya karena tau pasti Mama akan terima dan mengizinkan Saya liburan. Padahal Saya belum tau bagaimana kedepan kondisinya paska operasi.

Namun, jauh dilubuk hati Saya. Saya sebenarnya memang sudah sangat ingin liburan 2 tahun ini rasanya berat sekali. Sumpek sekali, rasanya ujian tidak berhenti-berhenti untuk keluarga Kami. Setelah operasi Mama berhasil sebenarnya liburan sudah Saya rencanakan. Saya pokoknya harus liburan tahun ini. Kemanapun itu !! 

Tapi, masih Saya fikirkan waktunya karena melihat kondisi Mama. Saya liburan setelah Mama betul-betul sehat deh, atau paling tidak Mama tidak harus kontrol lagi ke rumah sakit. Begitu Saya ditawarkan dari Sekolah untuk liburan ke Bali, Saya senangnya luar biasa. Mungkin ini jawaban doa Saya, yang Saya rencanakan untuk liburan.
"Tapi, kenapa dikasih sekarang Tuhan ?? Mama Saya belum sembuh total. Kontrolnya di rumah sakit juga belum selesai".
Sekitar kurang lebih 3 harian Saya memikirkan ini, "kenapa sekarang tuhan ? Tidak bisa diudur tuhan sampai Mama sehat, atau paling tidak Mama selesai kontrol". Ini terus berputar dikepala Saya, sampai pada hari dimana keputusan Saya dipertanyakan lagi pihak sekolah. 
"Bagaimana mau ikut liburan ?"
"tidak deh kayaknya Kak'. Soalnya Mama baru beberapa hari pulang kerumah setelah operasi, kasihan".
Begitulah kira-kira jawaban singkat Saya menolak, perjalanan yang selama ini Saya mimpi-mimpikan. Karena Bali adalah salah satu tempat yang ingin Saya kunjungi dari beberapa list daerah yang menarik menurut Saya. Dengan hati penuh tanya, "benar tidak yah, Saya menolak ini. Apa bisa nanti ada tawaran seperti ini lagi". Sebelum melangkah keluar dari sekolah hari itu, Saya yakinkan hati Saya atas pilihan penolakan itu. Karena kalau tidak sesampainya dirumah akan terlihat ekspresi Saya yang tidak baik-baik saja. Dan Saya tidak mau Mama melihat itu. 

Perjalan ke Bali saya lupakan, Saya kembali fokus mengurus Mama. Dan benar adanya kesabaran Saya diuji, keikhlasan Saya diuji. Mama menjadi super duper sensitif akan semua hal. Semua hal yang saya lakukan seakan tidak ada yang benar, Saya selalu dipersalahkan atas apa yang terjadi. 
Fikiran Saya Super Penuh
Lelah Saya Puluhan kali Lipat 
Sedih Saya jangan ditanya
CemburuKuu apalagi
Saya selalu merasa sendirian. Beberapa minggu ini Saya sering sekali menangis sendirian. Seperti merasa diri Saya tidak dianggap. Saya mempertanyakan "inikah jawaban atas penolakan liburan Saya untuk merawat Mama. Kalau tau begini mendingan Saya menerima untuk berangkat ke Bali".
Beruntungnya Saya sebelum semua terucap lisan dan terdengar sama Mama, Saya lalu teringat pesan Dokter dan Tante Nuri. Yang sudah menjalaskan hal ini kepada Saya, jadi ketika merasa kecewa Saya bisa membawa ke Kata "memang begini, Mamakan habis operasi"
Terimakasih Dokter dan Tante, sudah memberi tahu Saya diawal. Kalau tidak, Saya tidak tau mau membawa kemana semua ini. 

"ini hanya sementara, karena Mama habis operasi. Tenang !!"

Pukul 10.15am tanggal 21 Februari 2019
Tiba-tiba handphone Saya berbunyi. Saya tipekal orang kalau hanya Chat dan bukan telfon, Saya suka menunda-nunda untuk mengambil atau mengecek handphone. Apalagi kalau Saya memang lagi tidak memegangnya. "cuman chat, tunggu dulu deh. Selesaikan pekerjaan ini dulu".
Beberapa menit kemudian Saya baru membuka, dan ternyata itu adalah chat dari sekertaris RGBB yang meminta untuk difotokan KTP Saya. Karena mau memesan tiket untuk keberangkatan ke Bali. Saya membaca itu tidak langsung membalas, malah langsung mempertanyakan ke Mama Saya. 
"halo Ma'.. Siapa yang kasih nomor Saya ke Tante Marni. Kenapa katanya Saya masuk daftar perjalanan ke Bali padahal Saya tolak"
"oh,,  Saya lupa kasih tau. Itu Mama yang daftar lewat Bunda Hj. Upi minggu lalu"
"ih,, kenapa didaftar kontrolnya Kita belum selesai. Itu saya tolak karena belum sepenuhnya sehat".
"Berangkatlah, Mama sudah sehat. Mama tau kondisi badannya Mama, kalau tidak bisa dikerjakan. Pasti berhenti. Mama tau apa yang bisa dikerjakan dengan konsisi Mama sekarang dan apa yang tidak"
Saya yang dalam kondisi berdiri langsung terduduk diam. Mau nangis tapi malu banyak orang. Mungkin ini rencana dan jawaban Allah atas doa-doa Saya. Ternyata rencana-Nya Lain, Saya dikasih Paket Liburan sekarang.
Alhamdulillah !!!
Tuhan tau kapan sebenarnya waktu yang Kita butuhkan untuk liburan.
Tuhan pasti kasih kalau memang sudah waktunya. 
Tuhan melihat seberapa besar usaha dan kesabaran Saya, atas ujian ini. 
Tuhan tau segalanya, semua terjadi atas izinnya.

Setiap Kita merasa sumpek dan lelah. Sebenarnya Kita bukan butuh Liburan, tapi butuh Kepercayaan Lebih atas ketetapan Allah. 

Mudah"an Saya bisa lebih Sabar setelah liburan, lebih tenang, lebih happy

LoVe You MamaKe
LoVe You BapakKe
24 Februari Saya berangkat !!! 


Cat:
Saya memanggil orang-orang dalam lembaga atau Yayasan dengan Panggilan Tante atau Bunda. Karena jauh sebelum Saya bergabung dan masuk dalam Yayasan, Saya sudah mengenal Mereka. Dan Mereka juga tidak mau dipanggil dengan sebutan Ibu seperti kadang para petinggi-petinggi di sebuah Lembaga atau Yayasan. Mereka lebih nyaman dipanggil Bunda.
Panggilan Ibu itu terlaluuu ah sudahlah.. 
Apalagi untuk Kepala Yayasan Saya di BF, senangnya di Panggil Kakak atau Bunda. Tidak mau dipanggil Ibu. Bahkan di beberapa usahan yang didirikan juga Pegaiwanya tidak memanggil Dia Ibu atau Bos. Mungkin itu juga sebabnya Kami senang ngobrol dan bicara santai dengan Beliau-beliau 😊 

Minggu, 14 Februari 2021

MENCINTAI DAN Dicintai

Hay.. 
NamaKuu Herju
Saya adalah seorang laki-laki yang saat ini belum berumah tangga, saya juga belum memiliki pasangan. DiusiaKuu ini seharusnya Saya sudah beristri dan bahkan seharusnya sudah memiliki anak. Seperti teman-teman seumuranKuu dan sepermainanKuu saat ini mereka semua sudah menikah dan memiliki anak. Bahkan ada yang sudah memiliki dua orang anak. 
Melihat mereka bukan Saya tidak ingin merasakan apa yang mereka rasakan. Bahkan terkadang Saya juga sedih melihat mereka berjalan sudah ada gandengan dan gendongan. Terkadang bahkan Saya memilih untuk menghindari mereka ketika Kita kebetulan berada ditempat yang sama. Sampai Saya merasa ada yang salah dengan Saya sebenarnya.
Jika ditanya Saya saat ini, Saat ini memiliki orang yang dekat dengan Saya, jawabannya "ada". Lalu kenapa tidak berani melangkah ke hal yang lebih serius atau mengikatnya dalam sebuah hubungan yang disahkan Hukum dan Agama ??
"Bukan tidak berani, Bukan. Hanya saja Saya merasa ada yang salah dengan konsep Saya. Dan Saya masih harus sangat belajar".

Sampai kapan Kamu akan merasa KonsepMuu salah kalau Kamu hanya merasakan dan tidak mencoba menjalaninya ?? Coba Kamu jalankan konsepMuu ??
"Ini Saya sedang menjalankannya, makanya Saya tidak berani mengikat dulu karena sedang mencobanya"

Dalam konsep Saya ini, Saya merasa menyiksa pasangan Saya. Saya merasa kadang terlalu banyak menuntutnya, terlalu banyak hal yang membuat Kita sering beradu argument atau pendapat. Tidak jarang Saya merasa kasihan kepadanya, atas perlakuan. Tapi, Saya juga tidak dapat mengontrol itu. Kasihannya baru muncul setelah Saya marah atau membentak. Karena hal inilah yang sering membuat Saya memilih mundur. Keputusan mundurpun kadang membuat Saya menyesal lagi, "aduh, kasihan Dia sudah kena marah. Saya lagi menambah dengan meninggalkannya. Lalu Saya harus seperti apa ?? Dan bagaimana ??".


Kalau Saya boleh tanya Konsep Mencintai dan Dicintai menurutMuu seperti apa ??
_____________ (kalian pembacaKuu isi dikolom Komentar Blog ini yah,, siapa tau Konsep kalian bisa Saya Kisahkan dan Tuliskan di BlogKuu)

Ini adalah beberapa konsep dan kisah bagaimana Saya bisa mencintai dan dicintai dalam beberapa kali membangun sebuah hubungan. 

Mencintai... 
Saya pernah mecintai seseorang dengan sekali saja bertemu, Saya saat itu meyakini itu Cinta. 
Tapi, seiring berjalannya waktu Saya malah memintanya untuk berubah sesuai kebiasaan dan keinginanKuu. Yang pada akhirnya membuatnya memilih mundur. 
_
Saya juga pernah mencinta seseorang yang Kami bertemu hanya hitungan hari saja. Tapi, Saya yakin itu Cinta lagi karena dalam hitungan hari itu Kami bertemunya hampir setiap jam. Dan Saya masih tetap melihatnya baik apapun yang dilakukan. Pada akhirnya berakhir karena intensitas waktu Kita ketemu tidak seperti dulu lagi. 
_
Saya juga pernah mencintai seseorang karena Dia terus ada dalam kehidupanKuu. Dalam keadaan Saya susah, senang, sedih dan kecewa. Tapi, akhirnya Kandas lagi karena ternyata melakukan hal yang sama pada perempuan lain selain Saya. 
_
Saya juga pernah mencinta secara tiba-tiba padahal Kita tidak pernah bertemu lagi. Karena Saya dengar Dia telah sukses dan dulu ketika Kita sering bertemu dia sering membantuKuu dan Kita memang sering bersama. Tapi, dipatahkan dengan Kata keKaguman bukan Mencintai. 

Dicintai...
Dicintai itu membuat Saya seakan tidak menapak pada bumi.
_
Dicintai itu membuat Saya seakan hanya ada Saya dalam hidupnya. 
_
Dicintai membuat Saya harus yang paling baik dari yang lain. 
_
Dicintai membuat Saya Egois

Lalu saya harus memilih yang mana.
Ketika Saya mencintai, Saya merasa semua yang Saya lakukan harus sesuai keinginan dan harapan Dia. Meskipun itu tidak sesuai denganKuu. Karena Saya mencintainya jadi Saya harus mengikutinya. 
Katika Saya dicintai, Saya merasa Dia hanya untuk Saya tidak untuk oranglain disekitanya. Karena konsepnya kalau Kamu Mencintai Saya, berarti Kamu harus sesuai dengan keinginanKuu. 

Seperti itulah kira-kira Konsep tentang Cinta beberapa tahun ini. Jika Saya mencintai, Saya harus berubah sesuai keinginan orang yang Saya cintai. Begitu juga sebaliknya karena Dia dicintai Oleh Saya, maka Dia harus sesuai dengan keinginan Saya.

Akhirnya Saya sampai pada titik memilih untuk hidup sendiri dulu. Padahal Saya adalah tipekal orang yang tidak bisa hidupnya sendiri, yang apa-apa harus disemangatin, yang apa-apa harus diaturin, dan apa-apa harus minta pendapat dan perbandingan. Makanya itu mungkin yang membuat Saya juga sering jatuh cinta, walaupun Saya belum tau konsep cinta yang sebenarnya. Yang bisa jadi sekedar suka dan kagum Saya sudah menggambarnya sebagai cinta.

Sore ini saya sedang bermain handphone dan membuka salah satu sosial Media Saya. Saya melihat Video seseorang disalah satu feednya mengatakan Saya jatuh cinta padanya, pada pandangan pertama. Dalam hati Saya tertawa, 😂hahahaahahaha😂 (jahat yah Saya) 
Saya juga pernah merasakannya pasti nanti akan kandas. Karena itu hanya nafsumu saja.

Kerena seringnya Saya merasakan kecewa atas mimpi dan harapan yang Saya bangun dengan Cinta. Akhirnya Saya memilih untuk sendiri dulu. Ngobrol dan nongkrong sana sini, tanpa harus lapor ini dan itu. Tanpa diganggu telfon aturan waktu. Ini berjalan mungkin hampir hitungan setahun. 

Akhirnya Saya teringat sudah berapa lama yah, Saya tidak merasakan Mencintai dan Dicinta. Ternyata Saya bisa, hidup tanya Mencintai dan Dicintai.
Lalu jiwa menulisKuu kembali muncul dan Saya tulis konsep Mencintai dan DicintaiKuu dengan berapa Teman dalam Kisah hidupKuu dulu. (konsepnya saya tuliskan diatas tadi yah dengan tinta Bold). Itulah cara Saya mencintai dan dicintai dulu. Dulu juga saya lebih memilih untuk dicintai, kerena dengan begitu Saya merasa bahagia karena semua yang dilakukan adalah tentang Saya.
Namun pada titik ini, setelah Saya memutuskan untuk tidak menjalani hubungan Saya justru menemukan jawaban tentang Konsep mencintai dan dicintai yang sebenarnya. 
Mencintai bagiKuu saat ini, bagaimana saya mampu menerima segala Kekurangan yang Dia punya dan tetap bertahan meskipun bertahun-tahun lamanya.
Dicintai bagiKuu sebuah hal sulit, karena akan membuatKuu tidak merasa nyaman ketika Saya tidak sesuai dengan keinginan Dia.

Jadi, jika sekarang Saya disuruh untuk memilih Mencintai atau Dicintai. Saya lebih memilih untuk MENCINTAI.
Dengan mencintai Dia, Saya tidak akan menuntut banyak dari Dia. Tidak akan menuntut untuk Dia jadi seperti ini dan itu.
Dengan mencintai Dia, Saya pasti akan menerima segala kekurangannya. 
Dengan mencintai Dia, Saya juga akan belajar untuk melatih kekuatan dan keteguhan hati Saya. 
Dengan mencintai Dia, Saya memiliki keyakinan pada Allah
Dengan mencintai Dia, Saya akan tau bagaimana Dia memandang Cinta Saya.
Saya berharap dengan Saya mencintai Dia akan belajar untuk juga mencintai Saya, sesuai dengan Cinta yang Saya berikan. 
Saya berharap Dia belajar dari konsep bagaimana Saya mencintai. Saya tidak menuntut untuk dicintai karena Saya lebih memilih mencintai.
Mencintai itu bukan tentang bagaimana Kita menerima Dia sekarang. Tapi, Mencintai itu bagaimana Kita menerima Dia selamanya dan segala perubahannya.
Kamu akan melihat Dia setiap hari, bangunnya, tidurnya, badannya, emosi, amarah dan segala bentuk perubahannya bahkan ketika Dia nanti Sakit selama bertahun-tahun Kamu harus tetap memilih mencintai.

Kalau Kita sudah tidak Cinta lagi gimana ??
Dalam sebuah hubungan Cinta yang sudah awalnya Kamu pilih, Kamu tidak boleh ada pilihan untuk menghentikan Cinta. 
Bukan Saya yang menghentikan Cinta, tapi Dia yang telah membuat Saya kecewa sehingga rasa cinta Saya hilang, Bagaimana ??
Ini berarti Kamu tidak Mencintainya dari awal, tapi Kamu hanya merasa cocok dengannya. Sehingga menerimanya, bukan Mencintainya. Karena ketika Kamu merasa dikecewakan dan Dia tidak sesuai lagi dengan Kamu, akhirnya memilih mundur. Kenapa tidak mencoba menerima perbedaan dengan konsep apapun itu Saya masih Mencintainya. 

Mencintai apa yang sudah Kamu pilih dalam hidupmu itu. Harus sama dengan bagaimana Kamu memilih Mencintai Allah dan Orangtuamu. Karena kalau seperti ini tidak mungkin ketika Kamu dikecewakan Allah dan orangtuamu, Kamu langsung meninggalkan mereka begitu saja. Kalau Kamu belum bisa mengkonsepkan Cinta seperti Kamu mencintai Allah dan Orangtuamu berarti itu Kamu belum mencintai. 

Cinta itu tidak bisa memilih, tapi mencintai itu adalah pilihan !!!
Dan ketika Kamu sudah memilih untuk mencintai, tidak ada lagi kata berhenti mencintai. Tapi, yang ada adalah Kamu harus tetap dan selamanya mencintai.
Karena setelah memilihnya mencintai itu sudah bukan pilihan, mencintai itu sebuah keharusan.

Dan Saya sekarang memilih untuk Mencintai.

Kepada yang berani memilih dan mengikat Saya secara hukum dan agama nantinya. Bukan untuk Dia yang sekarang memilih dan hanya memberi janji terhadap Saya.

Allah saja tak pernah Saya lihat, tapi Saya tetap memilih untuk Mencintainya. Dikecewakan, keinginan tidak dipenuhi sama Allah saja Saya masih tetap memilih untuk Mencintainya. Begitu juga nanti ketika Engkau berani memilih dan mendatangi orangtuaku. 

Sekali lagi.. 
Karena Mencintai itu bukan Pilihan. Tapi, sebuah keharusan.

Dengan Mencintai, Saya belajar banyakkkkkkk
Jangan Sakit, Kamu Mencintai-Nya
Jangan Kecewa, Kamu Mencintai-Nya
Jangan Sedih, Kamu Mencintai-Nya
Terima semuanya, karena Kamu Mencintai-Nya





Note:
_Jangan menggunakan konsep ini dalam hidup Kamu, kalau Kalian hanya berPacaran atau hanya sekedar dekat. Konsep ini untuk Kalian yang sudah dipilih dan memilih lalu mengikatnya dalam hukum negara dan agama
_Kalian bodoh memakai konsep ini, kalau hanya sekedar pacaran. Apalagi hanya mengagumi atau suka saja. Karena Saya pernah menerapkan ini dan Saya mengatakan Diri Saya Bodoh waktu itu. Jangan sampai kalian juga sama. 
_Bagi Saya, sebelum Dia berani mendatangi orangtua Saya. Saya tidak akan menghadirkan kata Mencintai untuknya. Tapi tenang,  Saya akan melakukan semua yang terbaik untuk apa yang sedang Kita perjuangkan kedepan, tapi tidak untuk mencintainya. 

Sabtu, 13 Februari 2021

Senyumin Saya

Bismillah
Assalamualaikum 
Nama Saya Afsheen..

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saya tinggal disalah satu Kabupaten yang cukup besar di sebuah Provinsi. Jangan mencari Saya, karena Saya hanya tokoh fiktif yang dibangun penulis untuk menempatkan karakter penulis yang memilki sikap seperti dalam cerita ini. 

Sheen begitu orang-orang disekitar memanggil nama Saya. Kecuali kedua adik Saya dan orang tua Saya, mereka memanggil Saya dengan panggilan Kakak. Kakak dimana ?? Kakak Makan yuk !! Kakak lagi bikin apa ?? 
Saya adalah orang dengan karakter atau sifat yang tidak mampu bercerita secara detail. Saya bercerita jika hanya ada pertanyaan atau dimintai pendapat. Ditanyapun terkadang Saya hanya menjawab seadanya dan tidak suka jika pertanyaan itu diulang-ulang terus untuk ditanyakan. Kalau dimintai pendapat itu hobbynya Saya, Saya akan berbicara semua sesuai apa yang ada dipikiran Saya. Masalah Kalian mau mengikuti pendapat Saya atau tidak itu urusan Kalian yang penting Saya sudah menyampaikannya. 

Orang-orang sering mengatakan kalau Saya Si pelit kata atau Mrs Titik. Kenapa begitu, karena katanya terkadang orang masih ingin mendengarkan jawaban dari Saya atau menganggap itu masih nada kata yang akan diakhiri dengan tanda baca koma. Saya malah langsung memberikan tanda baca titik. 😅😅😅

Bagi Saya kamar adalah tempat ternyaman Saya. Karena apapun yang Saya lakukan tidak akan ada yang memberikan pertanyaan atas tindakan atau apa yang Saya lakukan. Saya bisa saja seharian di kamar kalau memang tidak ada urusan atau kerjaan di luar rumah. Nenek saja terkadang sering memanggap Saya lagi tidak ada dirumah walaupun itu hari libur. Nenek selalu bilang "eh,, ada dirumah Saya kira pergi".
Saking malasnya Saya keluar untuk mengobrol dan bercengkrama. Kamar bahkan pernah Saya anggap sebagai kerajaan Saya, setiap masuk kamar Saya selalu bilang "welcome to my kingdom" 😂😂😂.

Saya sebenarnya bukan orang tidak tau ngobrol atau pendiam atau kaku. Saya adalah orang yang ramai dan cerewet. Karakter Saya yang tadi itu muncul kalau dalam beberapa hari Saya lagi pusing, ribet, sedih atau marah. Coba saja kalian tanyakan pada keluarga-keluarga Saya tentang karakter Saya, Mereka pasti akan berkata saya orangnya ramai dan ceplas-ceplos. Setiap ada acara keluarga pasti Saya sering dicari-cari kalau tidak adak, karena begini-begini kadang Saya juga bisa mengundang tawa Mereka. Tapi, susahnya Saya kalau lagi dalam sebuah masalah Saya akan sangat jelas terlihat dalam tingkah laku Saya. Untuk keluaraga inti Saya pasti Mereka sudah tau kalau Saya pulang dalam keadaan tanpa ekspresi berarti Saya akan tidak terlihat untuk beberapa hari atau hanya terlihat tapi tidak ada suara. Mereka akan bilang "wah,, televisinya rusak lagi nih. Ada gambarnya, tapi suaranya nggak keluar"

Seperti itulah Saya, Saya tidak tau bagaimana menceritakan keadaan Saya terhadap orang lain disekitar Saya. Dipancing untuk memulai berbicarapun, Saya akan menjawab seadanya, tidak menjelaskan secara detail. Bahkan terkadang jika ditanya Saya hanya menjawab "tidak apa-apa, cuman kecapean saja kayaknya".
Saya berharap dengan jawaban itu tidak ada pertanyaan lagi selanjutnya, karena Saya tidak suka membagi cerita sedih, marah atau kecewanya Saya pada orang lain. Jangankan cerita sedih, marah dan kecewa. Bahagia saja terkadang Saya juga tidak mampu untuk menceritakannya. Mungkin karena itulah kenapa Saya sangat suka menulis. Dengan menulis rasanya Saya bisa menyampaikan segala sesuatunya jauh lebih jelas, jauh lebih detail dan jauh lebih lega. Kalau Saya bercerita tentang hal sedih, marah atau kecewa rasanya rasa itu dua kali lipat lebih membara. Bukanya malah lebih tenang malah makin membuat Saya kalut. Begitu juga dengan bercerita tantang bahagia, kalau Saya bercerita hal itu seperti membuat Saya sedang diatas puncak dan tidak akan ada mampu menyaingi Saya dalam artian sikap sombong dan sesumbar Saya semakin Kuat.
Itulah alasannya Saya lebih memilih untuk banyak menulis. Marah, sedih, kecewa dan bahagia banyak Saya tuliskan daripada Saya sampaikan kepada oranglain. Bagi Saya dengan menulis, Saya tidak perlu mengajak orang lain untuk merasakan apa yang Saya rasakan apalagi itu tentang kesedihan, amarah atau kekecewaan. Biar Saya saja yang merasakan semua itu tidak perlu orang lain. Bagi Saya, ketika Saya menceritakan apa yang membuat Saya sedih, marah dan kecewa berarti Saya mengajak orang lain untuk ikut marah dan kecewa pada orang yang membuat Saya seperti itu. Itu sangat tidak baik menurut Saya, itu berarti Saya menghasut orang lain untuk membenci orang itu. "Jangan sampai Ya Allah, Diamkan Saya terus seperti ini jika Saya sedih, marah dan kecewa. Saya tidak mau menjadi penyebar sikap buruk oranglain". 

Saya sangan mensyukuri sikap diam dan tidak banyak bicara ini. Karena akan membuat Saya semakin tenang dan tidak perlu harus berekspresi berlebihan. 

Bahkan dengan orang yang membuat Saya sedih, marah dan kecewapun kadang Saya hanya mengangguk dan mengiyakan. Membela diri Sayapun kadang Saya tidak mampu. Kalau kemampuan membela diri ini sebenarnya sering membuat Saya kecewa pada diri Saya sendiri. Karena terkadang Saya merasa membenarkan apa yang salah ketika tidak mampu membela diri. Bahkan terkadang Saya yang meminta maaf agar semuanya tidak berlanjut. Kalian pernah baca kisah (KARENA JANJI) bagaimana pasrahnya Saya untuk semua hal dalam hidup Saya. Yah, seperti itulah Saya bagaimana ketidakmampuan Saya dalam bercerita atau membela Diri dan itu terjadi sampai hari ini. Difikiran Saya, ketika Saya ngotot untuk membela diri. Saya justru akan menimbulkan kemarahan Saya yang seharusnya tidak perlu. Saya tidak mau membela diri dalam keadaan sedih, marah atau kecewa. Saya lebih memilih mundur menenangkan diri, pembelaan dalam keadaan sedih, marah dan kecewa itu bukan pembelaan bagi. Itu berarti Saya membenarkan diri Saya dan menantang orang tersebut.  

Bagi Saya, Saya tidak ingin melibatkan orang dalam kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. Dengan bercerita kepada Mereka pasti Meraka juga akan merasakan apa yang Saya rasakan. Cukup Saya yang kecewa, cukup Saya yang marah dan cukup Saya juga yang sedih. Untuk tidak membuat orang disekitar Saya kecewa dengan sikap Saya yang kadang Saya tau pasti Mereka tau apa yang sedang Saya rasakan. Meraka bukanlah orang-orang baru dalam hidup Saya, Saya tau Mereka ketika melihat Saya diam berhari-hari pasti Saya ada sesuatu. Beberapa tahun terakhirpun Mereka sudah jarang bertanya kepada Saya kalau Saya pulang dalam keadaan lesuh, atau Saya tidak keluar kamar. Saya juga akhirnya menyadari, kalau Saya seperti ini terus pasti akan membuat Mereka khawatir. Untuk itu Saya mencoba cara baru dalam diri Saya, yaitu Senyum. Kenapa Saya memilih untuk Senyum karena ini terkadang Saya pakai ketika dalam keadaan Saya kecewa dan sedih sementara banyak orang sekitar yang memperhatikan. Dan Saya malu untuk menunjukan kekecewaan dan air mata Saya. Saya akan memilih untuk berdiri dan meninggalkan tempat tersebut sambil tersenyum padahal wajah Saya telah menyangga airmata Saya agar tidak terjatuh. 

Setiap pulang ke rumah apapun keadaan Saya, apapun kondisi pekerjaan Saya. Saya akan masuk pagar rumah dengan kata "assalamualaikum, sambil tersenyum"
Buka pintu rumah "assalamualaikum, sambil tersenyum"
Buka pintu kamar "assalamualaikum, dengan kondisi airmata sudah dipipih"
😂😂😂😂😂 itulah Saya hingga hari ini. 

Dengan senyum tidak akan ada pertanyaan, Kenapa ??
Bagaimana hari ini ??
Kemana saja hari ini ??
Capek nak' ??
Begitu masuk rumah dengan Senyum, Mama Saya akan langsung membalasnya dengan senyum yang jauh lebih indah. Terkadang senyumnyalah yang membuat Saya makin tidak tega untuk masuk rumah dalam keadaan lesuh. Bertahun-tahun Saya perhatikan, begitu Saya masuk rumah dalam ekspresi lelah, kecewa atau sedih. Mama juga masih Senyum tapi Saya tau dibalik senyumnya ada berpuluh-puluh pertanyaan yang ingin ditanyakan. Tapi, Mama tahan untuk tidak membuat Saya merasa ditekan. Mungkin pilihan Senyum ini juga Saya dapatkan darinya. 
Mama cepat sekali belajarnya tentang karakter Saya yang tidak suka ditanyai secara terus menerus. Sehingga memilih Senyum setiap kali melihat Saya pulang, terkadang Dia juga bercanda tentang suatu hal tapi tidak lagi bertanya seperi dulu. Paling suka kalau Dia bilang "senyum saja, ketawa saja"

Betul adanya, sempai hari ini apapun kondisi Saya. Saya lebih nyaman untuk tersenyum.
Mendatakan pertanyaan yang susah dijawab dan dijelaskan tinggal ngomong "tidak apa-apa, lalu senyum"
Mendapatkan tugas atau tanggung jawab besar "iya siap, lalu senyum"
Sedih, Kecewa, Marah "berdiri tinggalkan tempat, sambil Senyum"
Begitu ditanya kenapa ?? Ada apa ?? "tidak apa-apa, lalu senyum"

Bagi Saya sekarang, Senyum itu selalu lebih mudah, daripada menjelaskan ada apa dan kenapa Saya sekarang ini. Dengan senyum ini Saya bisa tidak harus membawa Mereka atau orang-orang yang Saya sayang merasakan apa yang Saya rasakan. Cukup Saya yang menanggung sedih, marah dan kecewa. Mereka harus terus merasakan kebahagian. Begitu banyak perhatian, kasih sayang dan cinta yang mereka berikan. Masa Saya harus membagi kesedihan, amarah dan kekecewaan kepada Mereka. 

Biarkan kesedihan, amarah dan kekecewaan Saya. Saya bagikan dalam buku berteteskan air mata. Kenapa air mata karena Saya tipe orang yang kalau marah tidak tau berkata atau menyampaikan amarah Saya, lebih sering matanya yang mengeluarkan Kata daripada mulut Saya. Begitu juga dengan kecewa, Saya tidak akan mengeluarkan Kata, karena Saya tidak mampu. Air Mata adalah ungkapan amaran dan kekecewaan Saya. 
Ini juga salah Satu sebabnya Saya tidak mau bercerita kepada orang lain kalau Saya sedih, marah dan kecewa. Karena Saya tau Saya tidak akan bercerita tapi hanya akan mengeluarkan air mata. Belum ada beberapa kata yang keluar, air mata sudah ribuan tetes. 😅😅😅

Jadi, tolong kalau kalian sedang melihat Saya dalam kondisi sedih, marah atau kecewa jangan ditanya-tanya atau bahkan didekati.
Disenyumin saja.

Jumat, 12 Februari 2021

Memandang Orang Lain

Assalamualaikum...
Perkenalkan namaKuu Natusyah
Siang ini kebetulan ada acara kecil-kecilan dirumah Kami. Ini adalah bentuk rasa syukur Kami sekeluarga karena ada beberapa pencapaian yang telah Kami raih. Sudah sekitar semingguan lebih rumah Kami dipenuhin sanak keluarga dekat yang datang membantu untuk membuat hidangan acara Kami hari ini. Saya bersyukur karena keluarga dari Ayah dan IbuKuu kebetulan masih memiliki sikap gotong-royong dan saling bahu-membahu jika ada salah satu keluarga Kami yang butuh bantuan. Bersyukurnya Saya ada dalam keluarga ini. Terimakasih Allah

Singkat cerita, hari ini tibalah beberapa tamu undangan datang. Kami langsung mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan yang telah Kami sediakan secara Prasmanan. "Silahkan Om, Tante ambil makanannya".
Hari ini benar-benarkan melelahkan bagi Kami, terutama untukKuu mungkin dari pukul 09.00 sampai sore. Saya terus melayani tamu yang datang di meja prasmana, Saya hari ini cuma sekali makan. Saking tidak sempatnya Saya hanya makan pas siang Saja. Eh,, lupa Saya juga sempat makan malam harinya lalu membersihkan dan tidur. 

Keesokan harinya Saya bangun dalam kondisi badan yang super sakit. Seperti habis dipukulin, apalagi betis kaki seperti mengeras. Mungkin ini efek kemarin seharian berdiri dan berjalan menyetok persedian makanan di meja prasmana. "kalau begini Saya tidak bisa kemana-mana dong hari ini, istirahat aja dulu deh besok jalan-jalannya", gumam saya dalam hati. 
Hari ini rumah sudah dalam keadaan sunyi. Tidak ada lagi sanak saudara dan keluarga yang mundar mandir, kayak setriakan. Terimakasih untuk waktu kalian beberapa hari ini. 

Yehh.. Akhirnya hari ini bisa jalan-jalan setelah hampir 2 mingguan dirumah. Ngurusin segalam macam persiapan acara, udah kayak IO acara sibuknya minta ampun. Hari ini Saya jalan-jalan kebetulan diajak teman Saya, karena Saya memang bukan tipe orang yang hobby nongkrong tidak jelas hanya untuk nikmatin makan, minum lalu pulang tanpa ada tujuan atau pencapaian. Saya lebih memilih untuk berbaring dikamar nonton, mendengar kisah atau cerita. Tidak membaca cerita yah, karena Saya memang tidak suka membaca. Saya lebih suka mendengar dan melihat dalam mencari inspirasi menulis. Makanya kalau ada orang yang bercerita Saya senang sekali mendengarkan dan menyimak ceritanya. Karena kadang Saya bisa menjadikan kisah orang yang Saya dengar dalam karya tulisan Saya. 

Seperti kisah ini sekarang Saya tulis sebenarnya akibat nguping pembicaraan sekumpulan keluarga yang tengah nongkrong juga tadi disalah satu meja di samping tempat Saya dan teman Saya tadi ngumpul. Kenapa Saya tertarik untuk menulis kisahnya karena menurut Saya Mereka itu lucu dan sekaligus mengherankan serta membuat Saya dan teman Saya jengkel. 
Kami merasa jengkel dan marah karena tempat itu adalah tempat umum bukan milik pribadi mereka, bukan halaman atau taman belang rumah Mereka. Tapi, suara meraka seperti Mereka pemilik pribadi Kafe. Sementara Saya dan teman-teman serta pengunjung Kafe yang lain hanyalah patung tanpa telinga. Yang buat Saya dan teman-teman makin aneh karena Meraka menceritakan masalah hubungan keluarga mereka dengan keluarga mereka sendiri yang lain.

Aneh menurut Saya karena Ibunya menceritaikan keburukan sanak saudaranya kepada anak-anaknya. Sementara anak-anaknya tidak memberi tahu atau menjelaskan pada Ibunya, tapi malah Mereka juga ikut menambah dan membenarkan apa yang Ibunya katakan.

Dikepala Saya langsung berputar, bagaimana kondisi keluarga Saya kemarin kalau sanak keluarga Saya seperti itu. Baru kemarin Saya melihat bagaimana keluarga itu sebenarnya dan sesungguhnya. Hari ini dibantahkan dengan ada keluarga yang seperti ini. Rasa terimakasih Saya sama Allah makin memuncak "Terimakasih untuk menitipkan Saya pada keluarga yang saling memahami dan saling tolong menolong, jika ada satu diantara Kami yang khilaf mohon untuk diluruskan lagi jalannya. Dan bantuk keluarga Kami yang lain memahami kondisinya agar tidak terjadi perselisihan yang berkepanjangan,  Aamiin".

Ibun: Tante X kenapa itu kalau lihat Mama kaya ada sesuatu deh. (sambil mengernyitkan kening) 
Anak-anak Kompor: Iya, kalau lihat Saya juga begitu. Kayaknya Dia hanya pura-pura baik, karenakan banyak keluarga yang lain datang. 
Ibun: Tidak, suka sama Kita itu. Kalau tidak suka harusnya tidak usah datang kerumah cari muka saja. 
Anak-anak Kompor: Matanya kayak sisi TV ngawasin Kita terus. Mam, pas pulang bawa tentengan dongk. Kayaknya ambil makanan terus dikantongin kresek.

Mereka lalu tertawa bersamaan, tawa Mereka memenuhi seluruh ruangan Kafe. Sampai semua pengunjung menengok kearah mereka. Mereka lalu menengok kearah pengunjung lain yang melihat Mereka, dengan senyum tipis lalu kembali bercerita. 

Anak-anak Kompor: Saya juga dengar, pas mau ngambil piring Mereka cerita tentang Mama. Yang katanya nggak pernah turun manggil tamu. Pokoknya Mereka banyak nyeritain Mama sama yang lain. 
Ibun: Sirik saja itu Mereka
Anak-anak Kompor: Pasti nanti sebentar kalau Kita pulang dan masuk pagar rumah nih, Mereka cerita tentang Kita lagi. Tadi saja waktu Kita semua keluar Mereka sudah ngintip dan ngelihat-lihatin Kita. 
Ibun: Iri bilang Bos. 
Lagi dan lagi disambut dengan tawa menggelegar mereka semua.

Saya yang harusnya ngumpul dan happy-happy bersama teman-teman. Malah menguping pembicaraan Mereka karena Mereka tepat duduk di belakang kursi Saya. Teman Saya sudah menyarankan untuk pindah meja atau sekalian pindah Kafe. Tapi, bagaimana makanan belum juga datang kita baru saja menyelesaikan orderan pesanan ketika Mereka sekeluarga datang. Saya sambil bercanda, nikmatin Saja hitung-hitung Kita dapat dongeng atau bahan tertawaan atau pembahasan di perjalanan pulang atau di grup nanti malam. Kata-kata Saya disambut tawa cekikikan teman Saya, kerena tidak mau dianggap sama dengan Mereka yang tidak bisa melihat kondisi sekitar untuk bicara dan tertawa.

Sementara Saya yang sudah dari tadi mengamati pembicaraan Mereka dengan hati yang geram sebenarnya. Ini keluarga tapi kenapa begini, ingin rasanya Saya mengatakan apa yang Saya rasakan kemarin. "Kalau bukan karena keluarga yang bantu entah bagaimana acara kemarin, atau entah bagaimana kondisi tubuh kelelah Saya". Sama seperti Mereka juga pasti, tidak mungkin acara Mereka berjalan kalau tidak ada keluarga Mereka yang saling bantu.

Kalau keluarga Kalian cemburu terhadap Kalian tidak mungkin Mereka mau datang capek-capek membantu tanpa dibayar seperserpun. Lebih baik Mereka dirumah Mereka nonton atau tidur menikmati hidupnya. Tapi, itulah namanya keluarga sebagaimanapun kondisinya Dia tetapkan akan datang membantu. Sebagaimanapun Kalian memandang rendah dan lemah Mereka akan tetap datang untuk Kalian. Mereka pasti merasakan apa yang Kalian lakukan kepada Mereka, tapi Mereka menutup mata dan telinganya hanya untuk membantu Kalian karena itulah keluarga. Lain kalau Kalian memang sudah mengangap Mereka cemburu terhadap Kalian, Kalian pasti menganggap Mereka mencari muka dengan datang kerumah Kalian. Padahal belum tentu, Mereka datang bukan untuk mencari Muka. Tapi Mereka datang untuk menutup mulut dan hati kalian agar tidak memandangnya sebelah mata lagi. Mereka juga datang untuk tidak membuat Kalian Malu, membuat acara keluarga tapi tidak ada keluarga inti yang datang. Yang mana yang akan lebih malu. 

"Ketika Kita menganggap oranglain cemburu atas kehidupan Kita, sebenarnya Kitalah yang tengah cemburu atas kehidupan orang tersebut".

Kalau Kita mengatakan Dia itu cemburu, karena Kita punya ini dan itu, ebenarnya Kamulah yang tengah cemburu dengan apa yang orang lain miliki.
Hidup Kita kayaknya diawasi terus sama Dia, sebenarnya Kamulah yang telah mengawasi hidup orang tersebut.
Dia beli itu pasti karena lihat punya Kita, sebenarnya Kamu hanya tidak ingin ada saingan dalam hidupmu.
Dia pasti lagi Marah, Bukan Dia yang Marah Kamu. 
Capek pasti kalau mau ngikutin gaya hidup Kita terus, bukan Dia yang capek Kamu yang akan kehabisan memenuhi keinginan bukan kebutuhan
Kalau Kita merasa hidup Kita lagi diatas, sebenarnya ada Orang yang jauh diatas Kita lagi. 
Bagaimana Kamu memandang hidup orang lain, begitulah sebenarnya hidupmuu !!

Kamis, 11 Februari 2021

Karena JANJI

Ketehuilah Kawan !!!
Saya bukanlah orang yang pandai akan "CINTA"
Saya juga pernah merasakan apa yang kalian rasakan.

Kata "sulit melupakan bukan berarti mudah untuk menerima kembali". Adalah kata yang selalu Saya ucapkan saat jatuh dan terpuruk 2 tahun lalu. Aku sama seperti kalian, layaknya wanita biasa yang lemah dihadapan orang yang dicintai. Aku juga pernah kecewa, pernah sedih bahkan menangis karena "Cinta".
Dia yang Saya anggap istimewah
Dia yang Saya anggap sempurna
Dia yang membuat Saya untuk tidak memakai topeng kepalsuan lagi diwajah
Dia yang selalu memberi teka-teki disetiap harinya dengan kata-kata dan sikap dinginnya
Dia yang berjanji untuk selalu ada untuk Saya
Dia yang mengajari Saya untuk kuat dan tak jadi penakut 
Dia yang mengajari Saya untuk selalu menikmati hidup
Dia yang mampu mengubah sedihku menjadi bahagia
Dia yang berjanji untuk kembali 5tahun lagi dan juga membuat Saya berjanji menunggu dalam kesendirian.
Dia, Dia dan Diaaa....
Dia Saya anggap istimewah, namun harus Saya antarkan pada wanita lain. Dengan kalimat "cari miki pacar disitu"
Kalimat itu sering sekali menjadi perdebatan buat Kami berbulan-bulan. Mungkin segala macam cara telah dilakukan telah Dia lakukan agar Saya tidak mengucapkan Kata itu lagi dan lagi. Dia pernah Marah bahkan sampai Menangis karena Saya mengulang Kalimat itu terus untuknya. Dia juga pernah setiap kali Saya mengucap Kata "Cari" Dia sudah mematikan telfon, dan menelfon kembali dan bertanya sudah selesai kalimatnya. Sampai akhirnya Dia berada menemukan trik lain yaitu berpura-pura tidak mendengar jika Kalimat itu Saya ucapkan.

Sampai pada akhirnya mengembalikan Kalimat itu ke Saya. Mata Saya langsung berembun seakan ada yang akan menetes dan suara Saya seakan menghilang.
Kenapa suruh cari orang disini ???
Kenapa tidak Kita saja yang cari disana ???
Tugas Saya sebagai laki-laki bertahan, kalau Kita mau pergi jangan jadikan Saya alasan. Atau meminta Saya mencari Pelampiasan.
Halo, Halo... Kenapa ??? Kenapa kii Diam ???
Tidak  enakkan rasanya disuruh seperti itu. Tau kii berbulan-bulan Saya tahan ini pertanyaanKu ke Kita. Karena tidak mauka suruh ki bikin hal Bodoh seperti ini, tidak mauka bikin kii nangis,  cukup Saya. Sekarang pasti nangis kii toh Kuu tanya begitu. Hari ini Ku paksa sekali mii ini dirikuu tanya kii begini. Karena Kuu tau tidak tau kii mau bilang apa.

Saya yang saat ini hanya terdiam dan mengalami kebanjiran Airmata. Hanya menjawab Lirih dan suara serak, MARI BERTAHAN LAGI DENGAN JARAK. MARI MENGALAHKAN JARAK BERSAMA-SAMA.
Kami Bertahan !!!

__Berbulan-bulan__
Sampailah Saya pada titik dimana Sosia Media salah seorang terdekatnya membagi kisahnya yang sering menjadi bahan bercandaan teman-temanya karena kalau Mereka sama hanya Dia yang sendirian. Kalimatnya "Bukan tawwa Dia tidak laku, bukan juga Dia sendirian. Cuman dipisahkan jarak, LDRan nyiksa pastikan. Diiringi tawa teman-temannya dan dibalas dengan Senyum lirihnya".
Saya tau saat itu pasti Dia sedang terluka, hatinya pasti sedang bertanya-tanya benar tidak sih LDRan menyiksa ? Enak yah mereka jalan sama pasangan masing-masing. Kerena itupula yang Saya rasakan setiap kali teman-teman Saya bersama pasangannya.
Dikepala Saya mulai lagi muncul keinginan untuk memintanya mencari pacar disana. Tapi, takut untuk Saya sampaikan. Entah bagaimana inti awalnya, Saya lalu menemukan Ide untuk menceritakan kalau saat ini Saya sedang punya Kakak laki-laki yang bisa ditemanin ngobrol dan berbagi kisah Kita berdua. Dia hanya merespon dengan meminta nomernya, "kan itu Kakak.ta berarti juga bisa jadi KakakKukan, nomernya kirim yah", "iyye nanti Saya kirimkan kii".
Entah apa yang mereka komunikasikan melalui telfon mereka, saya juga tidak tau. 

Sampai pada masa Saya merasa sudah waktunya buat Dia untuk cari Adik (Adik Saya jadikan alasan agar Dia merasa tidak Saya suruh mencari pacar). 
"Kak', ini sudah penerimaan mahasiswi barukan ? Cari kali satu Adik buat Kita temani ngobrol.
Untuk apa ?? Jangan kii macam-macam deh
Ih, sembarang lagi itu na fikir, suruh cari Adik buat ngobrol bukan cari P A C A R !! (Saya menebalkan huruf untuk tidak membuatnya curiga) kan Saya sudah punya teman cerita tentang Kita, Kita juga cari mii Ade' yang biasa diteman cerita tentang Saya. Kan impas nanti juga Ade kasih nomernya ke Saya, biar Saya juga ngobrol.
Iyye nanti nah, tapi tidak harus Ade nah. Seumuran boleh atau bahkan yang lebih tua dari saya juga toh. 
"ih,, jangan yang tua nanti tidak bisa ngobrol dengan Kita".
Emmmmm.. 

Saat itu Saya rasanya seperti sedang mengantarkan hidup Saya pada tujuan yang tidak tau dimana ujungnya. Kekuatan Saya mengelurkan kalimat-kalimat itu diiringi deraian Air Mata yang tak tau dapat berhenti atau tidak. Hati Saya seakan sedang tidak kompak, satu sedang menanggung sakit yang satu sedang mengalami kelegahan. Jantung Saya seperti sedang berlari jauh meninggalkan Saya dan mengejar Kekuatan. Seperti yang sering Dia katakan Saya harus Kuat akan segala hal, saat itu ajarannya Saya buktikan. Ingin sekali rasanya saya berteriak.
"Saya sedang lemah"
"Saya sedang mengeluarkan butiran Air dari Mataku"
"Tolong, Saya sedang melawan Diri Saya sendiri Sekarang".

__Bertahun__
Akhirnya untuk pertama kalinya dengan semangatnya Dia menceritakan seorang wanita kepada Saya, menceritakan kekagumannya. Yah,  pada Adik Kami berdua. Tumben-tumben Dia menelfon Saya, tidak menanyakan Kabar Saya. Kami termasuk orang yang jarang sekali telfonan, Kami lebih nyaman untuk mengobrol dalam dalam Dunia tulisan. Karena Dia tau Saya lebih hobi menulis daripada bercerita. Seperti kisah Kita sekarang ini, sedang Saya tulis dan tidak pernah Saya ceritakan. Sebenarnya Saya sedang happy karena akhirnya Dia memiliki antusias terhadap sesuatu selain hobi olahraganya. Tapi, disisi lain berarti Saya haru mengatur langkah selanjutnya untuk mundur secara perlahan. Menjadi pendengar untuk kisah Mereka. Saya tau saat ini Dia sedang mengagumi Adik Kami, yang memang sengaja Saya minta. 
Bukankah itu yang Saya inginkan ???
Bukankah itu tujuan awal Saya ???
Lalu kenapa sekarang Saya rasanya memunculkan rasa penyesalan. Penyesalan Saya bahkan memuncak setelah Saya ketahui bahwa mereka habis melakukan perjalan liburan bersama teman-temannya, tanpa sepengetahuan Saya dan seisin Saya. Saya merasa tidak berhak mempertanyakan hal ini kepada Mereka. Akhirnya Saya menyimpannya sendiri, telah banyak Saya mendengar cerita kedekatan Mereka. Dimulut Saya ucapkan "Alhamdulillah", tapi dihati Saya tidak begitu. Waktu berjalan begitu cepat sampai pada akhirnya pilihan Saya untuk mundur perlahan sudah semakin jauh. 
"Saya serasa hidup diatas ketidakpastian"
"Saya serasa berjalan tanpa tujuan"
"Saya terus menyalahkan keputusanku untuk mendekatkannya pada oranglain"
"Saya kalut, Saya pusing dan Saya bimbang"
Apalagi, Dia sekarang serasa tidak menyadari kemunduranku dan penarikan diriku darinya. Kepekaannya terhadapku seakan menghilang, ditutup kekagumannya pada Adik Kami. 

Bersamaan dengan itu keegoisan Saya mulai muncul. Saya ingin kembali hidup setelah 2bulan terakhir ini mengalami kematian, Saya memintanya untuk tidak lagi membagi kefokusannya. Saya ingin waktunya seratus persen buat Saya sekarang.
Lalu bagaimana Kisah dengan Adik Kami ??
Saya menutup Mata dan Telinga tentang Dia, komunikasi Kami juga tidak berjalan seperti biasa karena memang Saya yang memutuskan mengurangi komunikasi setalah Mereka menutup perjalanan bersama Mereka beberapa bulan yang lalu.

Saya berfikir setelah Dia kembali kepadaku, Saya akan bahagia. Tapi ternyata tidak, Saya merasa dibahagiakan dengan kepalsuan yang dibuat. Saya merasa sangat bahagia, tapi Dia seakan membahagiakan Saya hanya dengan kepalsuan. Saya merasa zona Dia tidak sepenuhnya Saya lagi. Seakan Dia seperti ada yang menahan dan mengganggu fikirannya. 
"Salahkah jika Saya mempertahankan kebahagian ini ??"
Sampai akhirnya keegoisanku menyebabkan 3 hati terluka. Hatiku, Hatinya, dan Hati Dia !!
Skenario yang Saya buat, untuk Saya atur semauku akhirnya buyar dan tak berjalan dalam kendaliku.
Saya lupa ada Allah, Yang Maha Mengatahui dan Maha Mengatur Segalanya.
Saya lupa meminta sama Allah untuk menyetujui skenario yang Saya buat. 
Saya lupa, Saya tidak memiliki kemapuan untuk mengatur Hati orang. 
Saya Lupa....!!!
Saya sedang bermain-main dengan Perasaan dan Hati orang.
Ingin rasanya Saya mengantarkannya pada Dia yang membuatnya kagum saat ini. 
Tapiii.. 
Saya.. 
Tidak Kuat !!!

Pada akhirnya Saya memilih jujur dan menceritakan semua skenario yang telah Saya buat untuk Dia. Lalu, Dia hanya bertanya kepada Saya
"De, bagaimana rasanya hatita sekarang ??
"Bagaimana perasaanta sekarang ??
"Tidak usah dijawab De', pasti sekarang Kita nangis toh. Q tau ji De' bukan ini yang diharapkan sebenarnya dengan skenariota toh"
"Maaf K' !!"
"Itu jii memang Kata kalau bikin kesalahan kii, Kenapa tidak pernah kii membala Diri atau bertahan dengan keputusanta ??
"Kenapa selalu ji Kata Maaf yang keluar, kalau merasa kii benar berjuang kii"
"Ini mii kadang sikapta yang bikinka selalu khawatir, selalu kii mau dipojokan dan tidak mau kii melawan". 
"kenapa kaa berani akhir-akhir ini tinggalkan komunikasi dari Kita, karena berharapka berani bertanya dan mempertanyakan kenapaka".
"Pasti penasaran kii bagaimana Saya sama D......, Ku kasih tau kii juga kagumka kedengan kemapuannya"
"Tapi tidak sama sekali Saya lupa kii".
Lagi dan lagi Dada Saya tiba-tiba serasa sesak dengan responnya. Dia masih masih mempertanyakan hati dan perasaanku sementara Saya berbulan-bulan bermain-main dengan perasaannya

"Kak jangan kii maini hatinya orang, tanya kii siapa tau nasuka kii, Jalani mii. Bisa jii itu rasa Kagum berubah jadi Cinta".

Singkat, padat dan jelas. 

"Iye De', Baik-baik kii nah. Jangan terlalu gengsian dan kurangi egoista. Kabarika kalau tidak kuat kii. Assalamualaikum !!"

Akhirnya Dia berjalan sendiri, dan Saya mengetahui beberapa wanita telah mengiringi langkahnya dan berjalan terus menjauh dariku. Hingga yang terlihat oleh Saya hanyalah coretan kertas ini. 
Dia tak nampak begitu jelas lagi olehkuu. Kak terima kasih untuk semua kisah, pengalaman dan perjalan serta perlajarannya beberapa tahun ini. Maaf untuk semua sikap dan keegoisan Saya. Sampai bertemu dalam kisah, sikap dan tingkah yang lebih baik.
Saya tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal pada siapapun. Apalagi pada Dia, Saya juga tidak akan mengubur rasa ini. Karena Saya yakin saat ini Dia juga tidak akan mengubur rasa Kami. 
Jika semuanya membaik cerita ini akan pertama kali, Saya kirimkan untukmu !!


Berbulan-bulan Saya serasa mati dalam pencarian dan pertanyaan kemana Saya akan membawa Rasa ini. Saya terus berada dalam Zona mempermaikan perasaan yang orang lain berikan kepadaku. Karena raga Saya berjalan bersama, tapi hati Saya tidak.
Hingga disuatu malam Saya merasa benar-benar sendirian. Dia tak lagi datang menemani, Dia tak pernah lagi ada untuk Saya. Dia mungkin sudah melupakan Saya, kenapa Saya tidak mencobanya juga. Ditengah perjalanan Saya melupakannya, Saya lalu tertegun dengan Kata
"JANJI"

Kami pernah berikrar suatu janji. Kalau sekarang Kami tidak lagi bersama, bagaimana dengan janji Kami waktu itu. Akhirnya Saya mencari tau bagaimana janji jika tidak terpenuhi. (Janji adalah sesuatu yang harus dipenuhi). Singkat cerita kerena berbagai informasi yang Saya dapat tentang Janji. Saya memutuskan untuk membatalkan Janji Kami. 
Saya lalu mencari sosial medianya untuk pertama kalinya setelah Saya memblock nomernya. Melalui pesan Saya meminta untuk mundur dalam perjanjian yang telah Kami buat diawal kisah Kami. Dia tidak merespon sama sekali permintaan Saya itu. Mungkin Dia tidak membacanya itu menurut Saya, kalaupun sudah dibaca dan tidak direspon. Setidaknya Saya telah melepasakan Diri dari ikatan yang Saya juga tidak tau apakah melepaskan secara sepihak ini benar caranya. Atau masih ada tali-tali kecil yang tidak terlihat sehingga masih belum Saya lepaskan.
Kisah Saya ini Saya lanjutkan setelah hari ini Saya merasa mampu membuka Hati untuk oranglain !!
Membuka Hati bukan berarti Saya telah berpacaran dengan oranglain. Kerena dengan Dia dulupun Kami tidak terikat dalam Kata Pacaran, Kami mejalani. 
Bertahun-tahun Saya menutup rapat Kisahku ini, dalam Buku. Karena Saya lagi-lagi berjanji untuk membagikan kisahku setelah Saya mampu melupakan dan sanggup menjawab pertanyaan. 

Beberapa bulan Saya menutup luka, agar terlihat seperti keramik Kaca tanpa cacat dari luar dan berkilap. Tapi, seindah apapun Keramik dari luar tetap saja. Yang didalam memiliki serpihan garis dan lubang. Dari dulu pertanyaan ini sering ditanyakan kepada Saya
"Kenapa Anda tak pernah terlihat Sedih ??
"Kenapa Anda tak pernah terlihat Sakit/Patah Hati  ??
"Kenapa Anda selalu mampu untuk tersenyum dalam kondisi apapun ??
Untuk pertanyaan-pertanyaan ini Saya juga masih belum menemukan jawabannya !! 
Kekuatanku mengganti air mata menjadi senyum dan Sedih menjadi tawa didepan orang-orang sampai saat inipun masih Saya cari tau jawabannya.
Namun, katika cerita ini Saya tulis. Saya menemukan jawabnya, itu semua karena Allah. Karena pada saat lanjutan kisah ini Saya tulis, Saya sedang berjuang mengenal Allah lebih jauh. Dan jika saya ditanya pertanyaan-pertanyaan itu sekarang jawabannya cuman satu "Allah"
Kata Anji_Manji jangan lupa senyum hari ini. 

Selasa, 09 Februari 2021

HARAPAN !!!

Malam..
NamaKuu Ric..
Saya adalah tipekal orang yang kalau Kita pertama kali ketemu Anda akan menganggap saya adalah orang yang paling sombong dan angkuh yang pernah anda temui. Sebenarnya bukan karena itu, Bukan sombong atau angkuh tapi saya memang adalah tipekal orang yang pemalu ketika ketemu orang untuk pertama kalinya. Saya tidak tau bagaimana memulai obrolan dengan orang yg pertama kali ketemu, harus bilang apa ?? Harus nanya apa baiknya ??
Itulah saya ketika pertama kali bertemu orang baru. DikepalaKuu sebenarnya lagi berputar full untuk bagaimana cara bisa mengobrol dengan orang-orang baru itu. Yang kadang jika orang-orang itu peka mereka akan melihat ekspresi Kuu dan langsung tau sebenarnya saya sangat ingin menyapa. (untuk yg sedang membaca ceritaKuu ini, siapa tau Kita ketemu tolong tegur dan sapa duluan yah)

Saat ini usiaKuu tidak muda lagi,, saya sudah membangun beberapa mimpi dan sudah juga menguburkan beberapa mimpi. Ada yang memang sengaja Kuu kuburkan, ada juga yang oranglain yang menguburkannya.
Yang sengaja Kuu kuburkan itu memang sudah Kuu pilah bahwa mimpi itu tidak cocok dengan Kuu, lain dengan mimpi yang sengaja oranglain kuburkan.
Ini mimpi muu
Kenapa orang lain yg menguburkan ??
Kenapa tidak membangun mimpi itu kembali ??
Pasti ada beberapa orang yg akan bertanya demikian.
"Mimpi itu tidak dapat Kuu bangun lagi karena dalam mimpi itu ada Kata Kita yang akan membangun. Sementara saat ini langkah Kuu sudah tidak diisi dengan sepasang langkah lagi atau dengan Kata Kita".

Ayo bangun kembali dan buat mimpi lagi dengan orang yang lain.
"Tenang saya juga sudah memikirkan hal itu". 
"Saya hanya sedang beristirahat sejenak, Langkuh Kuu goyah setelah sepasang langkah meninggalkan Kuu".

Jangan goyah, langkah Muu masih seimbang engkau masih punya sepasang langkah.
"Saya tau Saya hanya sedang beristirahat".

Jangan terlalu lama beristirahat Mereka akan semakin jauh meninggalkan Muu.
"Tidak apa-apa saat ini Langkahnya memang sangat jauh dari Kuu karena Dia memiliki sepasang langkah yg Baru".

Kenapa tidak mencari juga secepat mungkin Langkah yg Baru biar ada yg menemani Muu berjalan cepat ???
"Tidak !! Saat ini Saya tidak mau berjalan terlalu cepat lagi karena Kemarin yang membuat langkah Kuu goyah adalah Saya terlalu banyak dan terlalu Cepat Berharap, sehingga Saya harus merasakan Pahitnya menelan Pil Harapan, Susahnya Melangkah dan Goyahnya semua Mimpi".

Saat dulu Saya memberikan semua Harapan, Menyusun Mimpi penuh Semangat dan Melihat semuanya sebagai hal Baik tanpa ada satupun hal Buruk. Dan pada saatnya Saya Goyah dan Jatuh saya seakan kehilangan semuanya. Bertanya kesana-kemari, bercerita kesana kemarin bahwa Dia buruk, Dia bukan orang baik, Dia akan mendapatkan ganjaran setelah ini. 
Kebaikan Kuu selama ini akan terus menjadi bayang-bayang dalam hidupnya, hidupnya tidak akan tenang, Dia akan merasakan apa yg Saya rasakan.
Rasa dendam ini terus memuncak didalam hati Kuu. Saya setiap kali melihat Dia, dahi Kuu akan mengernyit dengan sendirinya. Wajah Kuu seakan memerah dan memanas. Saya pernah berada dalam fase hidup ini.
Berteriak seakan mempertanyakan ini balasan kebaikan Kuu, ini jawaban dari doa-doa Kuu. Sampai pada titik Hati Kuu seakan tidak berisi lagi.

HidupKuu... .
Kuu jalankan sesuai dengan apa arahan orang lain, orang berkata ini baik. Saya juga mengatakan itu Baik, orang mengatakan itu Buruk. Saya juga mengatakan itu Buruk, orang mengatakan kesanalah. Saya kesana, orang mengatakan kesini. Saya kesini, orang mengatakan keatas lalu turun kembali. Saya keatas lalu turun kembali, orang mengatakan lakukan. Saya akan lakukan, orang bilang jangan. Saya juga tidak akan melakukan. 
HidupKuu tak lagi Kuu atur dengan mimpi dan harapann.
HidupKuu, Kuu jalani dengan semua arahan dan arah yg ditunjukkan oranglain. Saya akhirnya merasa nyaman dengan Zona pilihan hidup Saya itu. Karena jika terjadi sesuatu hal maka Saya akan segera menyalahkan orang yang memberikan arahan dan tidak harus menyalahkan Diri Saya Sendiri.
"Ini semua karena Anda, kan Anda yang menyuruh Saya seperti itu. Coba kalau Saya tidak menuruti Anda, tidak begini jadinya. Anda ,sih ........, Anda mah ..........
Akan seenak Nasi Goreng Abang" dipinggir jalan Saya menyalahkan orang lain. Karena memang Saya sudah mengatakan bahwa "apa yang Saya pilih karena Kamu yah",.
Sampai pada akhirnya satu persatu Mereka yang selalu ada Untuk Kuu memilih mundur karena SikapKuu itu. Memojokkan, Menyalahkan dan terkadang Bahkan menjadikannya Kambing Hitam dalam masalah pilihan hidupKuu. 

Pada akhirnya diposisi sendiri Kuu, Saya semakin merasa langkah Kuu semakin Goyah. Kali ini Langkah Kuu tidak berjalan dengan sepasang lagi, tapi hanya dengan satu Kaki. Terpincang-pincang, bahkan Kuu rasakan Kaki Kuu tidak lagi melangkah tapi Merangkak.
Saya jadi tau rasanya mengecewakan dan dikecewakan. Saya jadi tau bahwa ada juga mimpi orang lain yg sedang mereka bangun. Bukan hanya Saya saja yang punya Mimpi, merekapun punya Mimpi. Mereka bahkan masih sempat mengarahkan Muu, padahal mereka juga sedang mengejar mimpi Mereka. 
"Terima Kasih untuk kalian yang sudah mengarahkan Langkah Kuu".
"MAAF, untuk Diri Saya yang hanya Mendengarkan Jeritanya tapi tidak berhenti sejenak untuk Memeluknya, bahkan menanyakan Keadaannyapun tidakkk".

Saya di ajarkan untuk tidak terlalu memaksakan apa yang Kuu pasang sebagai mimpi, agar kecewaKuu tidak terlalu berat.
Saya diajarkan untuk tidak selalu menyalahkan apa yg terjadi. 
Saya diajarkan untuk tidak menyalahkan Diri Saya sendiri, terlalu tidak ada Rasa dalam diri Saya. Ketika Saya menyalahkan diri Saya lagi padahal Saat ini diri Saya terluka. Kenapa harus melukai Diri Saya lagi dengan Kalimat ini semua karena Saya yang kurang ini dan itu.

Laluuu.. 
Saya harus menyalahkan siapa ???
Dia ???
"Bukan Dia juga yang salah".
Lalu siapa ???
Allah ??? yang Maha Mengetahui Segalanya ???
"Oww bukan. Dia Tuhan Kuu yg tidak mungkin pernah salah terhadap Kuu".
Atau mungkin Kamu yang terlalu melupakan Allah dan Melibatkan-Nya dalam mimpi Muu ???
"Iya, kalau ini mungkin iya".
Berarti Kamu menyalahkan Diri Kamu dong ???
"Saya tidak lagi menyalahkan Diri Saya, tapi Saya menyalahkan Sikap Saya".
Berarti sama Saja, Dirimuu dan Sikapmuu itu sama saja. Itu semua berasal dari Kamu. 
"Mungkin bagi orang lain Dirimuu dan Sikapmuu itu sama, bagi Kuu setelah kegoyahan Kuu itu hal itu tidaklah sama".
DiriKuu adalah kendaliKuu,, SikapKuu adalah hal yang kadang tidak dapat Kuu kendalikan.
Makanya saat ini "Ketika Kebaikan Kuu dibalas Keburukan oleh oranglain, itu berarti Bukan Dirinya yang tidak Baik. Tapi, saat ini sikapnya sedang tidak dapat Dia Kontrol". Atau "Saya yang terlalu berharap lebih atas apa yang sudah saya berikan kepada oranglain".

Atau saat itu SikapKuu yang tidak dapat Kuu Kontrol sehingga Terlalu Berharap Lebih dari Dia.

Berharap boleh,, tapi jangan Terlalu.
Harapan harus ada, kalau tidak Kita juga tidak akan tau mau kemana hidup Kita dibawa. 
Harapan jangan kita gantungkan pada orang tapi pada diri sendiri, karena kalau Dia pergi. Dia akan membawa harapanmuu bersamanya. Dia tidak akan menyisahkan sataupun untuk Kita.

Jika terlanjur engkau gantung harapan bersamanya. Katakan "bawa semua harapan itu tanpa tersisa sedikitpun, Saya sanggup membangun harapan yang Baru jauh lebih Baik"

Kebaikan Kita jangan juga engkau Harapkan akan dibalas Kebaikan, kadang akan dibalas keburukan. Jadi, Kita harus belajar akan sebuah hukum bahwa engkau juga mungkin membalas oranglain yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.